Sunday, October 30, 2011

Solo Traveling?? Males banget...


Hmm.. berapa banyak diantara kita yang kalau mau jalan-jalan harus ribet dulu menentukan teman jalan, kalau nggak ada ya nggak bakal pergi? Emang kenapa sih kalau jalan-jalan sendiri? Kayaknya kalau jalan-jalan (baca:traveling) itu identik dengan rame-rame ya, well at least ada satu partner yang menemani ?? Di postingan saya yang lalu, tentang tips menentukan teman jalan, saya sempat menyinggung tentang tips menjadi seorang Solo Traveler. Tapi kali ini saya mau membahas lebih banyak tentang traveling yang dilakukan sendirian dan yah, masih berkaitan dengan traveling saya ke Bangkok yang lalu, yang merupakan perjalanan pertama saya ke Luar Negeri sebagai Solo Traveler.

Pertama, saya akan bahas dulu beberapa ketakutan ada hal-hal yang membuat sebagian orang enggan melakukan traveling sendirian. Takut nyasar, gak ada teman ngobrol jadi bosen, nggak ada temen diskusi kalau harus menentukan sesuatu, takut diganggu atau dijahatin warga lokal, dan ehm, nggak ada yang bisa ambil foto kita saat di spot-spot yang menarik, haha..

Tapi sebenarnya, buat saya traveling sendirian itu juga punya sisi plus kok, kita jadi belajar mandiri, bisa menentukan tujuan jalan-jalan sesuka hati tanpa harus berkompromi dengan orang lain, dan untuk yang cenderung pemalu dan nggak percaya diri seperti saya, bisa banget jadi ajang latihan buat nambah temen dari negara atau daerah lain. Yap, contohnya saya, saat saya ber traveling dengan teman, saya akan cenderung menghabiskan waktu untuk ngobrol ya dengan teman saya itu pastinya, dan cenderung cuek dengan orang sekitar. Tapi ketika saya sendiri, mau nggak mau saya didorong untuk membuka percakapan dengan orang lain. Misalnya saat di Chatuchak, Bangkok, ada pria Tibet yang ngajak saya ngobrol karena saat itu kami sama-sama sendiri, atau saat dalam perjalanan kembali ke Khaosan Road dari National Stadium, saya iseng nyapa cowok Jerman yang ternyata adalah temen dorm hostel sendiri.

Menurut saya, ada dua hal yang berpengaruh penting biar bisa nyaman ber solo traveling: Itinerary dan mental. Untuk hal yang pertama, Itinerary, sebenernya ini hal yang pokok banget harus dipunyai sebelum kita melakukan traveling sekalipun rame-rame. Namun menurut saya menjadi lebih penting lagi kalau kita traveling sendirian, karena saat kita sudah memiliki rincian yang jelas akan apa aja yang bakal kita lakukan saat di suatu tempat beserta biayanya, kita akan merasa lebih siap dan tentunya menjadi percaya diri (berkaitan dengan hal mental). Saya merasakan sendiri ketika hendak ber traveling ke Bangkok, kenikmatan nya sudah mulai saya rasakan saat dalam proses mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan yang singkat ini. Berbeda dengan saat saya hendak ke Singapura dan Kuala Lumpur, kesadaran bahwa saya akan melakukan solo traveling membuat saya menjadi lebih teliti dan repot menyusun itinerary. Segala kemungkinan-kemungkinan terburuk saya siapkan dan juga dicari solusinya. Saya nggak cuma melakukan riset lewat artikel-artikel di internet dan buku tentang Bangkok, tapi juga tanya-tanya ke beberapa temen yang sudah pernah melakukan traveling ke Bangkok. Saya nggak mau saya jadi bingung atau bego di tempat yang asing bagi saya, dimana bahasa lokal nya pun saya nggak paham. Oh by the way saya memutuskan untuk nggak mempelajari bahasa Thailand kecuali kata terima kasih, karena saya nggak punya cukup banyak waktu, dan menurut saya kalau saya belajar cuma sebagian saja, bisa-bisa saya malah bengong saat melontarkan pertanyaan dalam bahasa lokal dan malah dijawab panjang lebar dalam bahasa lokal juga. Haha! Jadi lah saya benar-benar menyusun itinerary ke Bangkok saya benar-benar secara detil kegiatan apa aja yang saya lakukan tiap hari, tiap jam, lengkap dengan moda transportasi yang perlu saya naiki dan juga biayanya. Itinerary Bangkok saya dapat dilihat disini. Ada juga yang merasa cukup menyusun itinerary secara general, misalnya hari ini mau ngapain aja dan kemana aja tapi tidak perlu ditulis per jam, tidak apa, itu semua tergantung gaya masing-masing traveler. Bahkan ada teman yang bilang sama saya dia nggak butuh itinerary tertulis macam itu saat ber solo traveling, semua sudah tertanam di otak dan tergantung kemana kaki ingin melangkah, itu juga nggak ada salahnya. Yang jelas, jangan sampai kita benar-benar buta akan tempat yang bakal kita kunjungi. Kenyataannya saat di lapangan, saya merasa terbantu dengan itinerary yang saya buat. Saya memang tidak melakukan kegiatan saya persis menurut jam-jam yang tertulis di itinerary, pun biaya juga nggak persis sama, ada yang lebih mahal tapi kebanyakan sih lebih murah. Lagi-lagi nggak masalah, karena pada dasarnya itinerary adalah sebuah panduan untuk kegiatan mandiri kita.

Sudah siap dengan itinerary, hal berikutnya adalah mental. Seperti yang saya bilang tadi, itinerary yang cukup akan membantu kita menjadi lebih percaya diri. Kenapa begitu ? Karena saat kita udah merasa nyaman dengan diri kita sendiri, maka kita akan lebih nyaman berinteraksi dengan sekitar. Mental yang lain yang perlu disiapkan adalah berkaitan dengan ketakukan menjalani solo traveling, yaitu misalnya takut diganggu atau dijahatin orang. Hal yang kayak gini perlu dilatih di kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saya sekarang tinggal di kota Jakarta, maka saya melatih diri saya untuk sering-sering pergi sendiri dan menggunakan moda transportasi umum. Sering saat saya melakukan hal ini saya bertemu dengan beberapa orang yang iseng ngajak ngobrol, atau orang-orang yang tingkahnya mencurigakan yang membuat saya bersikap lebih waspada. Saya juga pernah mengalami kejadian kecopetan yang nggak ngenakin banget tapi akhirnya jadi pembelajaran yang berarti. Jika di kota tempat kita tinggal kita sudah terbiasa jalan-jalan sendiri dan menggunakan transportasi umum (yang memungkinkan kita untuk berbaur dengan orang-orang dengan berbagai karakter), maka sebenernya mental itu sudah terbentuk dengan sendirinya. Di Bangkok saya nggak merasa aneh jalan-jalan sendirian, biasa saja, saya nggak menunjukkan tampang bingung sehingga orang sekitar juga nggak aneh dengan keberadaan saya. Memang ada kalanya saya loosing clue dengan hal yang saya cari, dan itulah saatnya bertanya dengan orang sekitar. Ada juga kejadian saya diikuti dengan warga lokal yang merepet dalam bahasa lokal. Tingkahnya mencurigakan, sempat sedikit takut tapi saya berusaha tenang. Saya membiarkan orang itu jalan duluan melewati saya sambil terus ngomel dan melihat saya. Saat itu di tempat umum jadi saya nggak terlalu merasa takut. Ketika menemui hal-hal yang mencurigakan kuncinya adalah tenang, jangan tunjukkan muka panik, malah kalau bisa tunjukkan muka kalau kita bisa lebih galak dari dia, hehe..

Untuk 'ketakutan-ketakutan' lainnya saat hendak ber solo traveling, misalnya takut bosen, nggak ada teman yang motoin kita, well.. banyak cara untuk mengatasinya,haha.. Misalnya untuk mengatasi rasa bosan, kita bisa bawa buku-buku favorite kita atau mendengarkan musik lewat Ipod atau MP3 Player. Atau kalau kita emang doyan ngobrol, ya ajak ngobrol orang disekitar kita dengan sopan dan jangan sampai mengganggu, maksudnya ajak ngobrol orang-orang yang menunjukkan gelagat mau diajak ngobrol. Kalau dia hanya menjawab sepotong-sepotong dan tampak gak mau diganggu, ya ajak yang lain. Saya sih percaya bahwa kalau kita mau terbuka, sebenernya kita nggak bener-bener sendirian kok saat ber traveling, karena kita bisa ketemu temen baru yang bukan nggak mungkin bisa kita ajak jadi temen jalan kita kalau emang tujuannya sama.. :)

Terus masalah dokumentasi, terutama buat yang narsis, hehe.. sekarang kan ada kamera tripod, atau kamera yang bisa disetting timer nya.. Atau kalau kita mau, kita kan bisa minta tolong orang untuk ngambil gambar kita. Satu spot satu foto dengan kita didalamnya sih, saya rasa cukup ya..
Jadi sebenernya, nggak ada alasan untuk nggak ber solo traveling. Kalau saya pribadi, mau solo traveling atau bareng-bareng temen nggak jadi soal. Ada kalanya saya ingin menyendiri, disitu lah saya memutuskan bertraveling sendiri, ada kalanya juga saya pengen traveling dengan teman jadi lebih rame, ya tinggal ngajak temen atau ikut rencana traveling mereka yang menarik hati saya. That is just simple, if you are really desire to traveling, you will do many thing to get that! *winks*




Sunday, October 23, 2011

Summarize Of Bangkok Trip, 14-16 Oktober 2011

Friday, October 14th 2011

Tiba di Suvarnabhumi Airport pkl 19.40 waktu Bangkok (sama dengan WIB)

Beli SIM Card AIS di Seven Eleven airport : 100 Thb

Sekitar pukul 20.30 menuju Phaya Thai dengan Airport Express Link : 90 Thb

Taxi dari Phaya Thai ke Khaosan Road : 150 Thb

Pelunasan Rainbow Hostel untuk 2 malam : 270 Thb

Air Mineral beli di Hostel : 10 Thb

Total Day I : 620 Thb

Saturday, October 15th 2011

Bis kota no 15 ke Lumpini Park : 6.5 Thb

Beli sarapan di Lumpini : 50 Thb

BTS dari Sala Daeng Interchange Station ke National Stadium St : 20 Baht

Tiket Jim Thompson’s House : 100 Thb

Babuthong Iced Tea : 25 Thb

Lunch di pinggir jalan Siam (Nasi dengan dua lauk) : 25 Thb

BTS Siam to National Stadium : 15 Thb

BTS Siam to Mo Chit Station (ke Chatuchak) : 35 Thb

Belanja souvenir di Chatuchak : 440 Thb

Jajan Mango with Sticky Rice di Chatuchak : 50 Thb

BTS Mo Chit to Siam : 35 Thb

BTS Siam ke National Stadium : 15 Thb

Bis no 15 National Stadium ke Khaosan : 6.5 Thb

Beli Roti di Seven Eleven : 15 Thb

Dinner at Khaosan Road, Tom Yum (40 Thb) & Hot Tea (25 Thb) : 65 Thb

Total Day 2 : 903 Thb

Sunday, October 16th 2011

Sarapan di daerah Khaosan (Nasi dengan sosis dan Babi cincang) : 40 Thb

Isi ulang AIS : 50 Thb

Bis kota AC ke Saphan Khwai Station (dari sebrang Grand Palace) : 12 Thb

BTS dari Saphan Khwai Station ke Siam : 30 Thb

BTS Siam ke Phaya Thai : 25 Thb

Airport Rail Link (Phaya Thai – Suvarnabhumi Airport) : 45 Thb

Beli roti di Sevel Suvarnabhumi : 25 Thb

Total Day 3 : 227 Thb

GRAND TOTAL DAY 1-3 : 1750 BAHT

Kurs saat beli Baht tgl 7 Oktober 2011 : Rp 298

GRAND TOTAL IN RUPIAH : Rp 521.500

Wednesday, October 5, 2011

Traveling.. kemana?? Sama Siapa ??Mau Ngapain Aja ?? (2)



Setelah menentukan tujuan traveling, pertanyaan selanjutnya kita mau kesana sama siapa ?? Eh tapi pernah juga sih saya ngajak temen ke Bangkok, dia udah langsung nanya: 'Sama siapa aja perginya?' Yang kalau boleh saya artikan, kemana aja juga ayo, asal temen-temennya jelas,huehehhee.. Tapi kalau saya biasanya mikirin diri sendiri dulu, udah jelas pengen kemana baru mikir pergi kesana sama siapa. Seperti saat saya mau ke Singapore, saya cari temennya di forum backpacker, dan syukurnya nemu yang asyik-asyik plus satu teman kuliah juga ikutan. Itu pengalaman traveling ke Luar Negeri pertama, makanya saya nggak sok-sokan pergi sendiri.
Waktu merencanakan ke Bangkok ini, saya niat awal solo traveling sih, tapi saya tetap berusaha ngajak teman yang ternyata nggak ada yang nyantol juga.. ^^
Untuk yang pengen solo traveling, menurut saya perhatikan poin-poin berikut :
  • cari info sebanyak-banyaknya tentang tempat yang akan kamu datangi (browsing, baca buku, dll)
  • Tanya langsung dengan teman yang pernah traveling kesana (cari info dan tanya-tanya menurut saya nggak bisa dihilangkan salah satu, kita jangan cuma mengandalkan cerita teman tapi nggak tahu info ter update, atau cuma baca-baca tapi nggak dengar pengalaman langsung dari orang).
  • Pastikan di keseharian kamu termasuk orang yang tangguh ngadepin masalah (tiga tahun di Jakarta, saya udah ngalemin beberapa kali nyasar jalan, salah naek angkot, kecopetan, kemalingan, ketemu orang rese, dll). Kalau kamu tipe orang yang mudah panik, latihan dulu deh hidup mandiri baru belajar solo traveling. :)
  • Perhatikan kondisi fisik kamu dan bawa obat yang diperlukan. Inget, jangan sampai kita sakit tanpa ada orang yang kita kenal disana.
  • Benar-benar bawa bekal yang cukup (bukan pas-pasan), yang jumlahnya kita tahu dari hasil cari info dan tanya-tanya. Kalau disana kita kurang duit, mau minjem siapa coba ?
  • Selalu aware sama keamanan diri sendiri.. Berpakaian sewajarnya, bawa barang-barang yang tidak terlalu mencolok, dan tidak gampang percaya sama orang baru...
Nah, untuk kamu yang selalu harus punya temen saat traveling, ini saran dari saya:
  1. Cari temen baru di forum.. Kalau kamu termasuk orang yang cuek dan nggak rewel, apa salahnya cari temen baru dengan destinasi yang sama? Sekarang banyak kok forum untuk para pencinta traveling, misalnya forum backpacker Indonesia, Komunitas backpacker Indonesia, dan lain-lain. Nah tinggal ikuti cara maennya dan sortir deh mana yang bener-bener serius. Kalau kamau nggak mau pusing dengan temen baru,
  2. Ajak sahabat-sahabat yang kamu tahu pasti klop sama kamu. Yang ini sih gampang banget, temen-temen akrab yang kita udah tahu plus minus nya. Tapi jangan salah, sahabat bisa juga berpotensi menimbulkan masalah/konflik kalau misalnya kita nggak merhatiin poin selanjutnya :
  3. Samakan ‘tujuan’ traveling. Bukan Cuma masalah mau kemana, tapi ngapain aja ? Kalau kamu nggak terlalu doyan shopping tapi temenmu gila belanja, then make a deal: misalnya kasi alokasi waktu belanja dua jam setelah itu pergi. Atau selagi dia belanja, kamu ke tempat lain. Kesepakatan-kesepakatan yang tampaknya remeh gini harus jelas diawal lho, kalau nggak mau berantem atau jadi nggak enakan. Ya syukur-syukur deh kalau kamu dan sahabat bener-bener punya ketertarikan yang sama. Nah hal ngapain aja ini juga berkaitan erat dengan :
  4. Kesamaan budget >> Yap, betul, uang itu riskan juga memicu masalah. Yah bukan masalah saya perhitungan sih. Kalau minjem 1-2 dolar atau beberapa puluh ribu rupiah dan saya ada sih nggak apa aja. Tapi kalau ditengah jalan temen ribut pinjem duit banyak, kan nyusahin juga. Makanya dari awal susun bareng-bareng itinerary lengkap dengan budgetnya. Jadi masing-masing tahu harus bawa uang minimal berapa..
  5. Sepakati kebiasaan-kebiasaan atau hal-hal yang sekiranya mengganggu keasikan traveling.. Ehm! Ini sih nggak gimana-gimana banget ya, tapi berdasar pengalaman aja pergi bareng temen yang punya pacar. Pas jalan-jalan disana, dia sering banget telpon atau sms sama pacarnya. Duh bukan, bukannya saya sirik atau mupeng, tapi ada kalanya itu mengganggu.. Misal saat di kerumunan orang di stasiun MRT, si teman sibuk absen lewat sms dan telpon sama pacar dan saya harus aware dengan keberadaan dia, pas pulsa habis dia sibuk cari pulsa dan saya nemenin (bukan saya nggak ikhlas, tapi kita sampai mendatangi beberapa toko gitu karena susah dapetnya), terus pas di dorm dia telponan dengan suara kenceng… Atau mungkin ada bad habit lain yang harus kita tegesin sebelum traveling bareng, misal: si temen suka buang sampah atau ngerokok sembarangan, suka marah-marah sama orang asing, dan lain-lain. Nah kita nggak mau juga toh jadi polisi buat dia? Emang kita nggak mau enjoy juga?? Hehee..
Tapi mau traveling sendiri, rame-rame, tetep jangan lupa selalu berdoa minta perlindungan dan kelancaran dari Tuhan yang Maha Hadir ya.. Happy Travel, Traveler ^^

Traveling.. Kemana ? Sama Siapa ?? Mau Ngapain Aja ?? (1)


Pingin jalan-jalan, tapi bingung menentukan destinasi? Sebenernya kalau menentukan tujuan traveling, apa aja sih yang perlu diperhatikan? Ada yang cuma mau jalan-jalan ke tempat yang 'wah', ada yang jalan-jalan sesuai hobi (suka lihat arsitektur bangunan klasik, suka climbing, diving, shopping, dll). Kamu termasuk yang mana ? Kalau saya pribadi bukan termasuk orang yang rewel dalam menentukan destinasi jalan-jalan. Selalu cuma ada dua hal yang jadi pertimbangan saya: budget dan ada apa disana ? Karena saya yakin pada dasarnya setiap tempat diluar tempat tinggal kita pasti mempunyai keunikan dan obyek-obyek yang menarik sendiri. Tapi setidaknya ada beberapa poin yang menurut saya penting untuk menentukan tujuan traveling :
  1. Punya budget berapa ? >> Sekarang sih sudah banyak ya buku panduan traveling yang budget friendly, kita tinggal menyesuaikan dengan kantong kita. Misalnya, dengan duit sekitar dua sampai tiga juta rupiah, sudah bisa tuh kita jalan-jalan ke negara tetangga, misal: Malaysia, Singapore, atau kalau dalam negeri sudah bisa lah ke Bali, Medan, atau Bangka Belitung (sudah termasuk tiket pesawat dan akomodasi). Tapi persoalan budget ini berkaitan erat dengan poin selanjutnya :
  2. Punya waktu berapa lama ?? >> Ini nih biasanya buat pekerja kantoran yang agak susah menentukan waktu cuti, seperti saya. Selama ini waktu traveling saya masih tergolong pendek: tiga hari dan dua malam. Nah kalau kita cuma punya waktu jalan-jalan nggak lebih dari empat hari, mending jangan maksain deh pergi ke tempat-tempat yang membutuhkan long flight hours. Misalnya, saya pernah dapet info traveling murah ke Raja Ampat dengan durasi waktu tiga hari dan dua malam. Setelah memperhitungkan lama penerbangan pulang dan pergi, ternyata praktis saya cuma punya waktu satu hari bersenang-senang di Raja Ampat. Yah, capek di jalan lah. Setidaknya untuk flight yang membutuhkan waktu enam jam-an sekali jalan, berikan alokasi waktu traveling satu minggu minimal, jadi kan kita bisa puas jalan-jalan disana sekitar lima sampai enam harian (perhitungkan juga kemungkinan transit dan delay, juga beri jeda untuk istirahat kita setelah terbang). Intinya, jangan maksain pergi ke tempat yang jauh hanya untuk menambah track record kita, tapi kita nggak punya waktu cukup untuk menjelajah disana..
  3. Special interest >> Kamu punya ketertarikan khusus nggak yang pengen kamu dapetin pas traveling? Mungkin kamu sudah bosan dengan suasana perkotaan dan pengen wisata alam, di Indonesia mah banyak banget pilihannya. Atau pengen tahu kayak apa sih dunia di luar Indonesia? Ketemu penduduk-penduduk lain dengan bahasa dan budaya berbeda? Tinggal pilih negara dengan budaya kayak apa yang kamu mau. Yang penting kamu sudah tahu apa yang bakal kamu lakukan dan lihat selama disana. Inilah gunanya mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat-tempat diluar tempat tinggal kita, jadi misalnya ada info tentang tiket murah ke tempat-tempat tertentu, kita bisa tinggal pilih deh tanpa bertanya-tanya ada apa saja disana. Misalnya saat saya memutuskan beli tiket promo ke Bangkok, karena saya banyak baca Bangkok adalah must visit nya para backpacker, kota nya para backpacker gitu. Disana juga banyak spot-spot wisata menarik seperti candi, pasar, museum, konservasi budaya, dll. Ada yang punya hobi fotografi, jadi fokusnya mencari tempat yang banyak spot bangunan berarsitektur unik, dll.
  4. Perhatikan kota-kota dan negara-negara dengan kondisi tertentu >> Maksudnya, kita jangan maksain pergi ke suatu tempat yang kita tahu banyak hal yang bertentangan dengan kita. Misal, kita tertarik pergi ke negara A karena disana pemandangannya dahsyat banget, tapi setelah kita browsing ternyata negara itu sedang ada masalah keamanan, atau penduduknya jelas-jelas nggak ramah dengan pendatang. Terkecuali kita punya temen yang bisa diandalkan sih, mending nggak usah sok cuek pergi kesana. Menurut saya, traveling not only about the adventure, yet it also about how we can enjoying the journey it self.
  5. Pergi ke tempat dengan karakteristik yang berbeda dengan yang pernah kita datangi >> Ya, ini juga yang sedang saya belajar terapkan. Selama ini saya masih mengandalkan mood dan promo tiket pesawat untuk ber traveling, tapi pengennya setelah ini saya bisa merencanakan traveling dengan matang ke tempat-tempat yang punya karakteristik berbeda. Singapura, Kuala Lumpur, dan setelah ini Bangkok. Saya rasa cukuplah mencicipi ASEAN untuk sementara ini.. pengennya setelah itu saya bisa ke negara diluar ASEAN, atau bahkan ke luar Asia. Atau kalau Indonesia, saya pengen banget bisa jalan-jalan ke setiap pulau-pulau besar, ke kota-kota yang berbeda karakteristiknya.. Se suka suka nya kita terhadap satu tempat, kalau bisa perginya jangan kesitu-situ mulu deh, atau cuma tetangga nya. Dunia ini masih terlalu luas, teman ! Mending sabar nabung sedikit lebih lama, jadi kekayaan pengalaman traveling kita pun bertambah.. ^^

Erna the Newbie Traveler.. ^^

Nah, cerita sahabat berikutnya adalah dari Erna, kawan satu kelas waktu kelas 3 SMU di Surabaya. Lama nggak bersua, kami ber reuni kembali lewat media sosial Twitter. Dari situ aku menemukan ternyata dia punya hobi yang sama denganku: Traveling. Erna yang kini bekerja di sebuah lembaga bahasa asing cukup terkenal ini, mempunyai hasrat yang cukup tinggi untuk menjelajah dunia -kan kubilang, sama sepertiku-.. dan ini adalah ceritanya saat ia menjelajah ke 3 negara di Asean: Thailand, Malaysia, dan Singapura, lengkap juga dengan hal-hal lain yang ia persiapkan sebelum melakukan perjalanan ke tempat-tempat tersebut :


Me : Jadi, bisa diceritakan na, pengalaman traveling pertama mu dan persiapannya ?

Erna : Ke luar negeri pertama kali itu pas ke Bangkok tahun 2009 dalam rangka liburan kantor. Karena pertama kali jadilah kudu ngurus paspor dulu. Liburan ma kantor itu bln September. Aku ma temen2 dikasih tau mo liburan di awal bln Agustus. Mepet yak cuma sebulan kurang (karena waktu itu pas Ramadhan, mo libur Lebaran). Meski mepet, dgn berbekal info dari berbagai sumber yang bilang proses pengurusan paspor itu cuma seminggu, walhasil memutuskan ngurus sendiri, gak pake calo.

Tips utk menghindari keribetan ngurus paspor sendiri adalah:
1. Semua dokumen pendukung kudu lengkap

2. Menyiapkan uang pas sesuai biaya (menghindari omelan petugas klo dia nggak ada uang kembalian)

3. Sampe di kantor imigrasi lebih awal atau pas mereka baru buka (kalo perlu sebelum mereka buka) sehingga kita bisa jd orang yang dapat pelayanan pertama dan tidak perlu terjebak di antrian yang membuat mood jelek serta membuat semakin telat ngantor.

4. Jangan malas dan berujung pada bantuan calo. Nggak seru dan keluar duit lebih pula. Ngurus paspor itu bagian dari adventure perjalanan wisatamu. :)

Back to the trip story. Karena pergi ke Bangkok sama kantor, jadi smua diurusin, mulai dari tiket pesawat, penginapan, akomodasi, sampai itinerary selama di sana. Beberapa tempat yang sempat disinggahi adalah: Suan Lum Market, Lumpini Park, Grand Palace, Wat Arun, Chatuchak Market, Pat Pong, Sleeping Budha, dll

Yang paling berkesan selama trip Bangkok ini adalah:

1. Baru tau namanya hostel .Nginap di Lub'D hostel. Wuih aman, modern dan bersih dan ramah dan seru banget nginap disini.

2. Grand Palace yang bagus banget. Meski panas, tapi aku paling suka sama tempat wisata yang ini. Siap2 bawa kacamata biar bisa liat tanpa kesilauan.


3. Naik perahu susuri Sungai Chao Phraya. Berkesan karena memang nggak pernah aku naik perahu menyusuri sungai seluas itu. Sempat di depan kuil apa gitu, di sungainya ada banyak ikan suci yang gede2. Gak boleh dipancing apalagi digoreng buat dimakan (ya iyaalah!). Hmmm.

4. Tempat belanja murah meriah. Beeeuuhh Bangkok dengan pasar wiken Chatuchak nya sukses mempesona dan menggelapkan mataku. Semua bagus dan murah. Sayang aku nggak bawa banyak duit, hahaha. Suan Lum Night Market jg bagus-bagus dan lebih rapi penataannya. Kaos murah bisa beli di Wat Arun, yang jualan banyak yg bisa bahasa Indonesia. Oiya, bbrp penjual di bbrp tmpt gak bisa bhs Inggris. Pakailah alat bantu para penjual sedunia: kalkulator. Pat Pong juga semacam pasar malam ditambah hiburan malam tipe XXX. Hahaha. Gak ada yang murah dan khas, jadi ya kurang menarik hatiku.

5. She-Male Show. Yak bener, aku nonton lho salah satu pertunjukkan she-male. Kategori tayangan 17th harusnya, karena baju para she-male nya terlalu seksi untuk ukuran pertunjukan nyanyi menari. Mana most of them itu sudah nggak keliatan lagi hawa male nya. Aku dan temen2 cewek pada jiper dengan kemolekan dan kecantikan mereka.

Me : Setelah dari Bangkok, kemana lagi ?

Erna : Trip ke luar negeri kali kedua adalah ke tanah Malaysia dan Singapore.

Johor Bahru

Kota pertama yang aku kunjungi di tanah Malaysia. Kenapa kesana? Karena mau jengukin Nad (teman SMU) yang sedang kuliah di UTM Skudai. Johor Bahru adalah kota terbesar kedua di Malaysia. Di sana ada kampus UTM yang juga merupakan kampus terbesar kedua di Malaysia. Aku sempet jalan-jalan di kota Johor Bahru. Sempet ke Masjid Sultan Abu Bakar. Trus masuk kawasan (bekas) istana Sultan Johor Bahru. Trus tentu saja masuk 2 mall untuk cek seperti apa sih mall mereka, dan nyempetin juga nonton film-film box office yg waktu itu belum jelas bisa masuk Indonesia nggak.. :D

Kuala Lumpur

Ibu kota Malaysia yang mengesankan. Ada sisi modern yang belum dimiliki oleh Indonesia (atau Jakarta tepatnya). Padahal ada banyak sisi yang sama dengan Jakarta. Yang membuat berdecak kagum selama disana hanya Petronas dan LTR monorel yang mereka miliki. Fasilitas umum nya are better than here. Belum sempat ke Genting Highland. Hanya sempat ke tempat2 belanja nya saja. Itu pun tidak jauh beda dengan di Indonesia, jadi ya kurang berkesan untuk urusan shopping, hehehe.

Melaka

Ini adalah kota yang membuatku nekad traveling ke luar negeri pertama kali. Karena ingin ke kota inilah aku nekad ke Malaysia dan mampir Singapore. Kota ini menghipnotisku lewat foto-foto yang dikirimkan oleh temanku yang sedang kuliah di UTM. Dan pas kesana. Walah, seperti mimpi menjadi nyata. Suka dan mengagumi semua yang aku liat. Mempesona. Bangunan tempo dulunya indah sekali. Meski pun cuman sebentar disana, tapi rasanya puas gitu jalan dan berpanas-panas menikmati satu per satu bangunan bersejarah di sana.

Singapore

Kota modern nomer satu sepanjang usia ku untuk saat ini. Belum pernah liat seumur hidup ku sejauh ini kota macam Singapore. Modern banget, sampe serasa hidup di dunia mimpi. Hahahaha... Duh susah jelasinnya. Semua yang serba teratur rapi itu sungguh terasa amat memudahkan perjalanan seorang newbie sekalipun. Kota dengan taman dan fasilitas umum yang membuat hati mencelosssssss. Terpukau terpesona terlena. Hanya sayangnya memang diam-diam segalanya sangat mahal jika dikalkulasi ulang. :D

Sentosa Island nya bagus. Nggak sempet masuk Universal Studios (karena tiada budget dan sayang melewatkan satu hari hanya untuk main-main di wahana yang bahkan mungkin aku nggak berani naik). Akhirnya aku mengunjungi tiap spot di pulau tersebut. Ada 2 pantai yang sepi indah dan teduh. Wah, jadi pgn gitu nginap 2 malam di resort nya.