
Chinatown : Untuk menuju Chinatown MRT Station, kita harus mengambil MRT yang North East line (di peta ditunjukkan dengan garis ungu). Jika patokannya adalah Changi, maka rinciannya adalah sebagai berikut:
A blog about traveling: unique story during traveling, tips, info, and many more.. Lets Go Travel! ^^


Film Thailand ini berkisah tentang perjalanan dua sahabat ke tiga Negara besar di Eropa: Inggris, Perancis, dan Italia. Cherry dan Noon dengan latar belakang masalah masing-masing yang membulatkan mereka untuk mencari pengalaman dan petualangan baru di Eropa. Noon yang baru saja putus dengan pacarnya, Cherry yang mengalami masalah di tahun pertama kuliahnya dan kemudian memutuskan untuk mengambil cuti kuliah. From Bangkok to London, berbekal Visa Pelajar yang mereka ajukan yang sebenarnya cuma akal-akalan mereka saja untuk dapat menghemat uang. Awal kisah mereka di London nggak mulus, karena justru kerabat yang dijadikan tumpangan malah terburu-buru pergi dan meninggalkan mereka sendiri di kamar kontrakannya. Mereka berdua harus kerja sebagai pelayan restoran Thailand untuk bertahan hidup dan memperoleh uang saku selama disana. Lari terbirit-birit saat didatangi petugas Imigrasi adalah salah satu kejadian yang memompa adrenalin mereka. Merasa cukup dengan petualangannya di London, Cherry dan Noon berniat melanjutkan traveling nya ke Paris. Disini kejadian ‘seru’ lainnya mereka alami, yaitu pengalaman baru menginap di dorm hostel bercampur dengan para pria, dan puncak nya saat meninggalkan hostel tersebut mereka kehilangan uang dan dompet mereka.
Kisah ini kental sekali dengan unsur persahabatan, dimana dua kawan baik yang mengawali perjalanan dengan manis, harus menemui konflik-konflik dalam rangka beradaptasi hidup berdua selama berbulan-bulan. Saling menyesuaikan kebiasaan dan juga menyatukan persepsi bukanlah hal yang mudah. Ada adegan saat Noon kecewa dengan keputusan yang diambil Cherry tanpa melibatkan dirinya, hingga akhirnya Ia memutuskan untuk berpisah sejenak dari Cherry dan jalan-jalan sendirian. Saat itu juga Noon bertemu dengan seorang pria yang mengajarinya banyak hal. Ada adegan menyentuh saat Cherry merawat Noon yang sakit dan berusaha mencari obat dengan kendala bahasa dan warga lokal yang nggak mau kompromi dengan masalahnya.
Sepanjang film ini kita akan banyak disuguhi spot-spot seru di tiga Negara besar Eropa , sebut saja menara Big Ben di London, menara Eiffel di Paris, dan menara Pisa di Italia. Meski beberapa hal yang mereka lakukan nggak pantas untuk ditiru selama traveling –misalnya curang saat masuk gate di stasiun MRT, melakukan pencurian saat bekerja di restoran- tapi sebenarnya film ini bisa jadi referensi kita untuk ‘nekat’ berpetualang di Eropa. Bagaimana dua gadis Asia dengan begitu percaya dirinya berkomunikasi dengan warga Eropa –oh well, their English were really good-, dan nggak gampang menyerah saat mengalami kendala di tengah perjalanan mereka. Malahan salah satu dari mereka akhirnya mendapat tawaran yang menggiurkan dari seorang pria Italia berkat talenta dan kepercayaan dirinya.
If you are desire to travel and wanna have more courage for Euro trip, this one is really worth it to be watched!
~dinoy
Pernah nggak kamu aware sama orang-orang disekitarmu saat kamu lagi traveling ke Negara yang asing? Atau kamu cuma sibuk dengan rencana-rencana yang udah kamu susun dan memusatkan perhatian hanya pada obyek-obyek wisata yang kamu kunjungi ? Di buku ‘Life Traveler’ ini saya terbuai dan larut dengan penuturan Windy Ariestanty tentang pengalaman-pengalamannya saat berpetualang ke Negara asing. Bukan hanya penuturan tentang indah nya suatu Negara atau kota, melainkan pelajaran tentang hidup dari orang-orang yang dia temui. Membaur, itu kuncinya. Dengan membaur, Windy menjadikan dirinya bukan sebagai turis, melainkan sahabat baru bagi orang-orang yang dia temui di setiap Negara. Buku ini diawali dengan bab yang menceritakan persiapan Windy saat hendak melakukan long trip nya ke Negara-negara Indochina bersama beberapa kawan nya. Mulai dari antusiasme saat memperoleh tiket pesawat yang cukup murah, hingga keraguan saat hendak mengajukan cuti selama dua minggu. Pun proses mengepak baju dan perlengkapan traveling dia ceritakan dengan rinci tanpa menghilangkan unsur keindahan bertutur kata.
Perjalanan yang Windy ceritakan pertama kali adalah tentang Ha Noi, salah satu kota di Vietnam yang dijuluki ‘Kota Damai’. Ha Noi yang bak kota di masa silam, Ha Noi yang terik, Ha Noi yang damai ditengah kesemrawutan lalu lintas nya. Ada dialog yang menurut saya menarik tentang kebijakan lalu lintas di Vietnam yang memberlakukan batas maksimal laju kendaraan hanya 40km/jam, yaitu saat Windy iseng bertanya kepada salah satu pegawai, apakah supir bus yang akan mereka tumpangi bisa diminta untuk berkendara lebih cepat? Dan inilah jawaban pegawai tersebut yang membuat saya terpana : ‘Because this is a tourist bus. So you have to enjoy our country.’ Well yeah, benar juga. Salah satu tujuan traveling kan untuk menemukan dan menikmati hal-hal baru disekitar kita, so why bother to be hurry ? J
Buku ini berisi 18 cerita Windy saat melakukan perjalanan ke berbagai Negara, plus dua cerita dari dua sahabat Windy tentang perjalanan mereka. Dari 18 kisah yang disodorkan Windy, ada tiga yang saya ambil sebagai cerita favorite, tanpa mengecilkan makna dari 15 cerita lainnya, yaitu : ‘Ha Noi: The City Of Peace’; ‘ 10-10-10: Dalam sebuah Perjalanan Menuju Paris’; dan ‘Tentang Mereka yang Jatuh Cinta’. Oh yaa, ada satu bab berjudul ‘Bahasa Manusia’ yang membuat kita sadar bahwa bahasa yang berbeda bukanlah suatu halangan untuk berkomunikasi sesama traveler asing. Sebut saja kisah seorang Nenek Rusia yang nggak bisa berbahasa Inggris namun tetap bisa menikmati perjalanannya tanpa harus menjadi seorang yang hanya diam.
Anyway, saya akan sedikit cerita tentang efek yang diberikan setelah saya membaca buku ini. Jadi buku ini sengaja saya beli untuk menemani perjalanan saya di pesawat menuju Bangkok pada tanggal 14 Oktober 2011. Flight terlama yang pernah saya alami selama ini, yaitu Surabaya – Bangkok selama empat jam. Sepanjang membaca buku ini di pesawat, saya jadi kagum dengan Windy yang seolah begitu mudahnya menjalin komunikasi dengan orang asing. Well, I’m not that kind of person, saya yang dulu malah cenderung pemalu parah. Namun saat di tengah solo traveling saya di Bangkok, ada satu titik yang tahu-tahu saya menjadi begitu ‘gampang’ berkomunikasi dengan orang asing tanpa ada kecurigaan berlebih. Berawal dari disapa seorang pria asal Tibet di pasar Chatuchak dan berlanjut obrolan seru, iseng menyapa seorang pemuda Jerman saat di bus kota menuju hostel yang ternyata dia adalah dorm mate saya sendiri, sampai kemudian dipertemukan dengan dorm mate lain yang adalah solo traveler wanita Indonesia, dan kami bertiga –bareng si bule Jerman tadi- berbagi kisah seru masing-masing saat traveling. Perjalanan ke Bangkok itu adalah momen yang membuat saya sadar bahwa traveling itu nggak melulu tentang mencari tempat-tempat seru di suatu kota, tapi juga menjalin komunikasi dan berbagi cerita hidup dengan manusia-manusia baru disekitar kita, karena kita nggak pernah tahu kapan dan dimana kita akan dipertemukan dengan malaikat-malaikat penolong kita. Yap, secara nggak sadar kisah-kisah Windy memancing saya untuk menjadi lebih terbuka.
‘Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home.’
‘Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.’
‘Jangan pernah menjaminkan rasa kepada waktu. Ia punya masa kadaluwarsanya.’
‘Di antara keriaan, selalu ada cinta yang dirayakan dalam diam.’
‘The most important trip you may take in life is meeting people halfway (Henry Boye).’
Banyak sekali pelajaran hidup yang Windy petik dari manusia-manusia baru yang Ia temui, yang lantas Ia tuturkan dalam kalimat-kalimat yang quotable seperti diatas. Banyak juga tips-tips dan info yang Windy selipkan di setiap ceritanya saat mengunjungi suatu lokasi. Untuk merenung, untuk belajar, untuk panduan traveling, saya rasa buku ini buku yang lengkap. Salute, Windy ! J
~dinoy~
Info Buku
Judul Buku : Life Traveler
Genre : Non Fiksi, travelogue
Penulis : Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit : 2011
Harga : Rp 65.000