Monday, January 20, 2014

ANTRAVELOGI ~ sebuah catatan perjalanan yang akhirnya lahir. :)


Yay, puji Tuhan.... Setelah penantian dan proses yang cukup lama, akhirnya saya bisa melihat satu impian saya tercapai: menampilkan satu karya saya di rak buku perjalanan di toko buku Gramedia. :D Yup, saya senang melakukan perjalanan, sebuah proses untuk menghilangkan jenuh yang berbuah pengalaman-pengalaman baru. Saya pun suka membaca, yang membuat saya juga menyenangi membaca kisah-kisah perjalanan yang tertuang di dalam buku. Dari dulu rak favorit saya ketika ke Gramedia pastilah rak novel, fiksi. Tetapi, sejak tahun 2011 saat ke toko buku pasti saya menambahkan rak buku perjalanan sebagai tujuan favorit lainnya. Baca juga di artikel ini, saat saya menuliskan bagaimana buku-buku perjalanan mulai menjadi tren. :) Saya pun berpikir, kapan ya saya bisa menulis jalan-jalan saya itu menjadi catatan-catatan yang terdokumentasikan dalam sebuah.... buku??

Hingga akhirnya gayung itu bersambut di bulan Februari 2013. Jika saya ceritakan akan jadi amat panjang, jadi begini coba saya ringkaskan: Mulai tahun 2012 (awal? pertengahan? maafkan short memory saya :D) saya memang sudah coba membuat outline tentang naskah yang berisi catatan perjalanan. Saya mulai banyak membaca buku perjalanan dari yang bersifat panduan sampai travelogue. Konsep naskah pun berubah beberapa kali. Hingga akhirnya sekitar bulan November 2012, saat saya masih setengah menyusunnya sembari melihat persyaratan naskah di beberapa penerbit, takdir mempertemukan saya dengan salah satu editor di Bhuana Ilmu Populer yang bilang kalau tempatnya bekerja sedang mencari naskah bertema perjalanan. Saya girang dan bersorak dalam hati. Ya Tuhan, tepat sekali di saat saya sedang memerlukannya!! Lebih cepat sedikit lagi ya, akhirnya di awal tahun yaitu Januari 2013, naskah utuh saya pun jadi. Konsepnya dibagi menjadi tiga bagian: cerita-cerita perjalanan saya di beberapa tempat dengan gaya naratif, beberapa tips praktis berkaitan menyiapkan perjalanan, dan juga ringkasan itinerary dari perjalanan-perjalanan yang saya ceritakan.

Hasilnya.... Tidak menyangka bahwa BIP akan merespons secepat itu, kalau tidak salah tak lebih dari sebulan (dari jangka waktu 50 hari yang dijanjikan). Yay, mereka bilang mereka suka konsep tulisan saya yang di bagian pertama yaitu bagian naratif, tetapi mereka ingin melakukan beberapa revisi dengan meniadakan dua bagian lainnya karena itu sudah banyak di buku-buku panduan. Mereka ingin lebih fokus ke penceritaan saya selama berjalan-jalan. Saya bilang, tak masalah, toh tak sampai melanggar banyak konsep utama saya. Dari e-mail, berlanjut telepon, lalu bertemu di kantor BIP. Dan setelah itu saya berkutat dengan revisi-revisi, meminimalisir porsi penjelasan teknis dan memperkuat di cerita. Beberapa bulan kemudian saya ajukan lagi, hm, Mei mungkin ya karena saya juga terkendala kesibukan kerja di kantor. Lalu sempat beberapa kali berkabar dengan pihak editor, lalu diam lagi dan saya pikir itu adalah masa antre karena ada naskah lain jadi tak masalah. Malahan, ketika bulan Juni naskah kedua saya yang bergenre fiksi tetapi ada unsur perjalanannya juga diterima oleh BIP, naskah inilah yang lebih dulu lahir, judulnya Get Lost:

Get Lost malah duluan lahir yaitu di bulan November sudah mulai ada di toko buku Gramedia di Jakarta dan sekitarnya, lalu mulai menyebar di kota-kota lain di Indonesia. Memang benar, menunggu akan menjadi menjemukan jika kita tidak melakukan apa-apa. Lewat proses penyusunan naskah Antravelogi dan juga proses menunggu pengerjaan di penerbit ini saya diajarkan; dari yang awalnya benar-benar mengharap cepat keluar, lalu mulai 'melupakan' penantian itu dan mengerjakan hal lain. Akhirnya saya bisa melihat kalau kita tak berpatok pada satu hal saja niscaya kita akan lebih dapat maksimal. Saya jadi tak mempermasalahkan mana yang lebih dulu terbit karena saya tahu semuanya memiliki prosesnya masing-masing.

Hingga akhirnya, Desember 2013, di penghujung tahun, proses penyuntingan Antravelogi selesai sudah. Editing, layout, proofreading, juga kovernya diberitahukan kepada saya seperti ini:


Saya yang masih diselimuti euforia karena kelahiran Get Lost, merasakan semangat lebih lagi dengan kabar selesainya Antravelogi ini! Dan, kemarin, 20 Januari 2014 ketika saya berkunjung ke Gramedia Pejaten Village... saya bisa bernapas lega dan merasakan sukacita penuh ketika melihat akhirnya karya solo saya tampil juga di rak buku-buku perjalanan di Gramedia! Yay, Puji Tuhan!! Oh iya, tidak untuk melupakan bahwa sebenarnya ini bukan benar-benar yang pertama sih karya saya ada di rak ini. Karena di bulan Juli 2013 pun ada satu buku kompilasi catatan perjalanan terbitan DIVA Press yang memuat satu cerita saya juga, seperti ini:


Tetap membanggakan, meskipun jika dilihat dari luar saja orang tidak tahu ada nama saya, tetapi itu untuk pertama kalinya saya menang lomba menulis yang hasil tulisannya dibukukan (ada 30 penulis di sana). :)

Semuanya adalah proses. Dari Traveling Note Competition, Get Lost, lalu Antravelogi... semua ada proses pengerjaan dan masa tunggunya. Sebuah perjalanan yang membuat saya akhirnya sadar, tak ada mimpi yang terlalu muluk, tak ada harapan yang terlalu mustahil; hanya saja, maukah kita mengikuti proses yang Tuhan syaratkan untuk mencapainya? :)
Selamat membaca, semoga berkenan. :)

Wednesday, October 9, 2013

Get Lost in Manila!

“Is  it your first time here? You will get lost...”

What? Ah, saya nggak terima dengan perkataan petugas tourist centre ini. Oh, lets back for a moment before. Rewind.... rewind....

Saya baru saja mendarat di Ninoy Aquino International Airport, Manila, dari kota Cebu. Waktu sudah beranjak malam, sekitar pukul setengah delapan. Saya berjalan menuju salah satu sudut yang bertuliskan tourist centre, hendak bertanya pada petugas di sana. Ada seorang pria yang yah, berwajah cukup tampan menurut saya.

“Excuse me, I want to ask, I want to go to Pablo Ocampo Street. Do you know how to get there?”

“Sure, you can take taxi,” jawabnya singkat.

Can I take public transportation like MRT or Jeepney?” saya masih meminta informasinya.

No,” dia menggeleng.

Why? My friend said that I can take MRT.” Saya nggak membual, ini adalah hari ketiga saya di Filipina. Di hari pertama, saya sempat beberapa jam di Manila sebelum bertolak ke Cebu City, dan sempat ngobrol dengan orang Indonesia juga yang sepenerbangan dengan saya.

Is it your first time here?” Dia balik bertanya, wajahnya tampak meragukan saya.

Yes...” Saya menjawab dengan menggantung, tidak suka sebenarnya diremehkan seperti ini, tetapi kan saya memang memerlukan informasi detail untuk menuju hostel.

You will get lost if you don’t take taxi.”

Saya menunjukkan raut muka kecewa dengan lebih terang-terangan karena perkataannya barusan. Saya mulai menyesal bertanya padanya.

So I have to take taxi? My friend said that I can go there by MRT through Pedro Gil station. Ah, alright...” Saya siap berlalu.

Hei, maam... You can take bus, HM Bus, ask the driver to take you to the MRT station, okay!” 

Mungkin, dia merasa tidak enak juga setelah melihat saya kecewa, tapi ya sudahlah. Saya bergegas menuju bus putih yang akan membawa para penumpang ke pusat kota. Pilihan yang lebih terjangkau daripada taxi. Di hari pertama saya sudah mencoba menggunakan bus ini, yaitu ke Baclaran, dan di sana ada stasiun MRT. Jadi, tidak akan susah seharusnya. Rute yang sama, kan?

Tapi entah kenapa malam itu, bus tidak memenuhi harapan saya. Dia memang lewat di sebuah kawasan ramai dengan tulisan Baclaran di salah satu bangunan ruko. Tetapi, mana terminalnya? Mana kereta kota yang lewat di atas jembatan layang itu? Saya terus berjalan, mungkin, tidak akan jauh dari sini. Mungkin ini adalah sisi Baclaran yang lain dari yang saya singgahi dua hari lalu. Saya bertekad akan menemui stasiun MRT untuk menuju area hostel saya berada. Saya melangkah saja, menutupi hidung karena astaga... bau pesing sekali jalan raya di Manila ini! Mana kotor pula. Duh. Saya mencoba bertanya kepada polisi yang ada di situ, dia hanya menyuruh saya berjalan lurus untuk menemui stasiun MRT. Yang mana lurus itu ternyata jauuuh. Tanya polisi lain lagi, masih diminta berjalan lurus lagi. Saya mulai capek sebenarnya memanggul ransel seberat kira-kira tujuh kiloan ini. Tapi saya belum menemukannya juga. Saya berhenti sebentar, mencoba berpikir daripada hanya berjalan tak tentu arah. Menenangkan diri sebentar, melihat-lihat sekitar.... hei! Ada kereta melintas di atas sana!! Saya langsung semangat, berarti tak jauh lagi stasiun MRT-nya.

Phew! Saya mengembuskan napas lega ketika memasuki salah satu gerbong MRT. Saya menunggu-nunggu untuk dapat turun di stasiun Pedro Gil. Lho... lho... kok, lewat stasiun kereta ini? Saya membuka lagi peta MRT di handphone, mencoba mencocokkan. Astaga, ini line yang berbeda! Bagaimana ini?? Mau turun, tapi saya bingung. Saya memutuskan tetap berada di kereta. Saya memperhatikan ujung line ini menuju: North Ave Station. Nah di North Ave Station seharusnya saya bisa pindah ke line lain yang ke Pedro Gil, karena meski line-nya berbeda, tetapi muaranya toh sama-sama ke North Avenue Station. Saya bergeming saja di dalam kereta. Hingga akhirnya MRT berhenti di stasiun terakhir. Kiri-kanan saya mulai beranjak, keluar dari gerbong. Mau tak mau, saya pun keluar. Melihat ada seorang polisi, saya menghampirinya dan bertanya lagi.

Sir, I’d like to go to the Pedro Gil. How?

Oh, you have to go to the Taft Ave.”

But I just arrive from there!” Saya berseru, mulai hilang sabar. Tampak si polisi menundukkan kepala seperti menyayangkan sesuatu.

“You have to take the different line to go to Pedro Gil.”

“I can’t transfer here?”

No, you can’t,” sesalnya. “You have to go back to Taft Ave and move to line 1, okay?

Gila! Saya lemas dan kembali masuk gerbong kereta. Duduk di sana dengan pasrah. Saya kembali mengikuti kereta yang sama, tapi rute yang berkebalikan. Saat sudah tiba di Taft Ave, saya mencoba mencari line 1. Seseorang menegur saya, lagi-lagi polisi.

Now is too night, the LRT only operate until 9.30 pm.

Bagus! Saya menepuk jidat, lalu bertanya apa yang harus saya lakukan jika ingin menuju Pablo Ocampo Street. Dia menyarankan saya naik Jeepney di bawah. Saya menuruti. Tetapi setelah turun tangga stasiun MRT dan mendapati beberapa Jeepney, saya tidak menemukan nama jalan yang saya cari. Sang sopir pun bingung ketika ditanya.

Bahu mulai turun, saya lelah, saya tersesat, tepat seperti yang diramalkan oleh petugas bandara tadi. Padahal, saya sempat tersinggung dengan ucapannya. Dia tak tahu kalau saya sudah sering bertualang dengan cara ekonomis, masa gini aja nyasar? Itu ucapan saya tadi dalam hati saat dia meremehkan saya. Tapi toh ucapan dia ada benarnya. Dan sekarang sudah mendekati pukul sepuluh malam, nggak lucu kalau saya terus ada di jalan raya tak jelas seperti ini. Akhirnya, saya pun....

“Sir, can you take me to Pablo Ocampo Street, near Century Park Hotel?” Saya membuka pintu salah satu taxi yang terparkir di situ dan berbicara pada sang sopir. 

Ya, saya sudah tak berpikir tentang persediaan uang yang semakin menipis, ini sudah malam, saya naik taxi juga akhirnya ke hostel.

And the best part is, meski saya sempat ketus karena menganggap pak sopir terlalu banyak bertanya dan tampak bingung dengan tujuan saya, tetapi dia tetap meladeni dengan ramah. Dia bahkan mengajak saya ngobrol, saya dari mana, berapa lama di Manila, dan mengajari sedikit bahasa Tagalog.

So this is your hostel.” Kami berhenti di sebuah bangunan di seberang Hotel Century Park. The Buoy Hostel, tepat seperti nama yang tertulis di kertas yang saya pegang.

Ah, thank you, Sir!” Saya berujar lega, terlebih ketika mendapati tarif taxi tidak terlalu mahal, sekitaran 80an peso.

“What’s your name?”

“Dini.”

My name is Peter,” dia mengajak bersalaman, saya menyambut tangannya, “and I am your friend here.” Dia tersenyum, sangat, sangat, menenangkan. 
Oh, leganya....

Welcome to Manila, Dini. :)

(based on my traveling at Oct 5th, 2013)

Saturday, July 13, 2013

Gokil!!!

Gokil! Delapan belas hari?? Maksudnya, hampir tiga minggu!! Gue masih nggak percaya dengan kenyataan yang terhampar di hadapan gue sekarang. Beberapa hari lalu, pihak HRD di kantor baru mengabarkan kalau gue nggak jadi masuk kantor pada tanggal 1 Agustus, melainkan tanggal 16 Agustus. Dan sebelnya, pemberitahuannya hanya sehari selang gue habis beli tiket Jakarta – Surabaya – Jakarta yang cuma empat hari, dari tanggal 28 Juli. Maksud gue, gue emang berencana pulang untuk take a breath sebelum beraktivitas di kantor baru, juga mengganti lebaran yang rencananya gue nggak akan pulang. Tapi, tahu gini kan gue nggak buru-buru balik tanggal 31 Juli ke Jakarta, gue bisa spend time lebih lama di rumah gue di Surabaya. Tapi, kalau toh gue mau lebih lama juga bisa, paling-paling harus rela menghanguskan tiket Surabaya – Jakarta seharga tiga ratus enam puluh ribuan. Well, sayang sih sayang, tapi... dua minggu lebih, man!! Mau ngapain gue? Bengong di rumah? Atau malah bengong di Jakarta?? Pikiran gue tentunya lebih memilih traveling. Ah, tahu gini kan udah gue rencanakan lama mau ke mana aja. Gue yang selama ini untuk traveling aja kudu ngutak atik tanggal merah, weekend, dan jatah cuti tahunan, sekarang dihadapkan pada waktu luang yang lama... masa gue sia-siakan?? Tapi, ke mana?? Otak gue menyebutkan beberapa destinasi. Thailand... Vietnam... man, skip! Setelah gue cek harga tiketnya muahalnyaaa!! Sepertinya gue harus menyempitkan tujuan lagi untuk di negara sendiri saja, lebih sempit lagi di Pulau Jawa atau sekitarnya. Tapi,, ke mana?? Ah, Bali, Ubud!! Gue kan punya utang untuk memberi hening pada diri sendiri di tempat itu. Tapi,, kapan? Naik apa? Terus mau berapa lama di sana? Masa dua minggu lebih cuma di Ubud doang?? Sayang, Noy, sayaaangg!! Hmm... gue pun mengecek jadwal transportasi ke Bali yang dari Surabaya, juga harganya, lalu... ah! Mungkin gue bisa lanjut ke satu kota lain lagi di Pulau Jawa sebelum balik ke Jakarta sekitar tanggal 14 Agustus paling lambat. Nah, enaknya ke....

Wait, wait, stop! I got to stop thinking!! Gue kebanyakan berpikir gimana-gimananya, padahal masih agak lama juga. Gimana dengan perjalanan spontan, yang jelas dimulai dari kota kelahiran gue, Surabaya, dan berujung pada kota ternyaman gue sekarang, Jakarta. Spontan, yess, gue rasa kayak begitu akan lebih asyik. Well, i think i need to get lost... and get lost needs no itinerary. :)

Thursday, April 4, 2013

Berkemas.


 
Berkemas.
Bagi saya adalah pertanda bahwa kita siap untuk bergegas. 
Mencoba meringkas segala perkakas, hingga tak ada sesal yang berbekas.

...

Baju+celana ... [v]
Kamera ... [v]
Buku bacaan ... [v]
Makanan ringan .. [v]
Sendal jepit ... [v]
Sunblock ... [v]
Perlengkapan mandi ... [v]

.......

Oh, ya ampun! Handuk!

Semalam,04 April 2012, saat sedang berkemas untuk perjalanan akhir pekan ke Krakatau ... :)

Friday, March 22, 2013

(do) WE (really) NEED A CAREER BREAK (?) !!



Pic from: annieandre.com
Saya sedang merasa jenuh, saya tidak dapat menikmati pekerjaan rutin saya yang notabene telah memberi nafkah bagi kehidupan saya. Terlebih, ketika saya menyadari bahwa sesungguhnya passion saya ada pada hal yang jauh berbeda dari profesi saya saat ini. Sejak menyadari bahwa traveling dan writing adalah gairah saya, saya mulai semakin tidak fokus pada pekerjaan saya setiap hari. Dan tepat di saat saya sedang berpikiran untuk menggumuli penuh kedua passion tersebut – salah satunya dengan cara menjadi pejalan penuh waktu – saya membaca artikel tentang career break yang ditulis oleh Anida.
Ternyata, career break adalah lumrah terjadi pada pekerja profesional mana saja setelah mengerjakan hal yang sama setelah bertahun-tahun. Adanya kejenuhan-kejenuhan yang telah mencapai kulminasi, juga masalah-masalah pribadi yang mengganggu, membuat kita butuh waktu untuk berhenti. Setiap orang butuh jeda. Tepatnya, setiap orang layak untuk mendapatkan waktu perhentian setelah bekerja sepanjang hidupnya. Career break bisa berlangsung satu bulan, enam bulan, satu tahun, atau bahkan empat tahun. Setiap orang butuh waktu yang berbeda-beda dengan tujuan dan kegiatan pengisi waktu yang berbeda pula, bisa untuk pengembangan pribadi, belajar, menjadi volunteer atau untuk mewujudkan mimpi yang tertunda. (Saya ambil dari http://nonaransel.com/arti-penting-sebuah-career-break/ ada baiknya membaca artikel itu juga sebelum atau setelah membaca keseluruhan artikel ini^^.)
Dan sebelum saya memutuskan apakah yang sedang saya alami ini benar-benar memerlukan career break atau sekadar kebosanan yang membutuhkan istirahat beberapa hari saja, maka saya pun mencoba bertanya beberapa hal kepada Anida, pelaku career break itu sendiri. Mari simak apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan saya dan juga jawaban yang dibagikan oleh Anida. (me in black and Anida in blue).  :)


--------


Jadi sebenarnya, waktu kamu memutuskan untuk memulai career break ini, ada peristiwa apa yang mengilhamimu untuk mengambil keputusan ini? Bisa diceritain detailnya, misalnya pas sedang ada kejadian apa di kerjaan? Atau terinspirasi sama orang lain yang sudah duluan mengambil career break?
Aku mengambil keputusan ini karena merasa stuck. Stuck oleh rutinitas kerja dan stuck oleh beberapa masalah yang bersifat pribadi. When I said I needed a break, I needed a break from everything. Aku berencana menceritakan detail alasannya di buku yang sedang aku tulis :)
Kenapa 14 bulan? Apakah sudah direncanakan dari awal? Atau just go with the flow, kamu merasa cukup untuk saat ini dan pulang dulu sebelum mempersiapkan rencana selanjutnya?
Ya tidak ada alasan kenapa 14 bulan. Aku berjalan kalau ingin berjalan dan berhenti kalau ingin berhenti.
Apa saja yang kamu persiapkan saat hendak memulai perjalanan panjang? Gimana dengan rute, apakah sudah dipersiapkan mau ke mana saja atau kamu hanya menentukan titik awal perjalanan, selanjutnya diputuskan on the spot?
Tidak ada persiapan khusus kecuali menyiapkan barang-barang yang akan dibawa di dalam ransel. Harus yang ringan dan cocok untuk berbagai keadaan. Untuk rute, titik awal memilih Perth hanya karena ada tiket promo ke kota itu. Menurut aku kota mana pun sama aja karena sama-sama belum pernah. Selebihnya ikuti keinginan hati saja.
Rasa khawatir itu datang ketika kita berada di tepi zona nyaman (dari artikel ‘Arti penting sebuah career break’ di nonaransel.com). Ketika kamu melakukan perjalanan panjangmu, pernah enggak suatu hari mengalami rasa khawatir yang cukup besar dan urgensi? Saat kapan dan lagi di mana tuh? Gimana menyiasatinya?
Yang paling bikin cemas ketika diganggu orang di depan kantor kedutaan Finlandia di Rabat, Maroko. Udah gagal ketemu orang kedutaan buat konsultasi visa, yang ada malah diganggu pria-pria hidung belang. Ada masalah tiket dan kartu kredit juga ketika di bandara Casablanca satu jam sebelum boarding. Terpaksa beli tiket baru on the spot kalau mau pulang saat itu juga. Semua masalah mesti dihadapi dengan tenang, karena pasti ada jalan keluarnya.
Bicara tentang perjalanan, pasti bicara juga tentang manusia-manusia yang kita temui selama dalam perjalanan. Siapa orang asing yang pernah kamu temui yang paling menginspirasimu, dan mungkin malah makin memperkuat keputusanmu mengambil career break dan long solo traveling ini?
Susah ya kalau harus ditunjuk siapa yang ‘paling’, menginspirasi karena semua traveler punya alasan dan ceritanya masing-masing. Yang pasti dengan bertemu banyak orang dari berbagai penjuru dunia, aku jadi tahu kalau aku tidak sendirian dan ini adalah keputusan yang benar. Banyak sekali backpacker atau traveler yang mengambil keputusan yang sama dan ternyata mereka bisa menikmati hidup mereka.
Aku baca salah satu ceritamu yang Byron Bay: Kota yang Menyembuhkan Jiwa. Tapi aku masih penasaran, apa sih sebenarnya yang ditawarkan kota ini hingga rasanya meninggalkan kesan nyaman bagi jiwa? Lepas dari hal-hal yang sudah kamu sebutkan, seperti hang-gliding, bersepeda mencari danau, melihat ikan paus, atau ngobrol sama Romain. Apa ada atmosfer dari tempat ini yang membedakan dengan tempat lainnya? Bagaimana dengan penduduk lokalnya? Tolong ceritakan, ya. :)
Anida berada di Byron Bay - Australia
Kamu harus kesana sendiri untuk merasakannya, hehe. Bukan aktivitas seperti bersepeda atau hang-gliding yang menenangkan jiwa, tapi memang suasana Byron Bay-nya. Semua penduduk lokal maupun backpacker yang tinggal di sana sangat rileks, setiap orang menawarkan kreativitas yang unik dan berbeda di sudut jalan. Banyak toko yang menyediakan bahan-bahan organik atau alat meditasi. Semua orang bersikap apa adanya dan menikmati keberadaannya di dunia.
Oh ya jadi menurutmu, apa sih ciri-ciri orang yang perlu career break, apa menurutmu setidaknya dia sudah kerja berapa tahun dulu gitu? Apa yang jadi pembeda dengan kebosanan sesaat aja yang bisa diatasi beberapa hari?
Aku sih enggak percaya ada ciri-cirinya ya. When you need a break then you should take a break. It’s that simple. Perbedaan dengan kebosanan sesaat? Beda banget. Aku melakukan ini karena aku sangat butuh perubahan. Buat aku ini adalah bagian dari perjalanan hidupku, bukan sekadar jalan-jalan untuk dipamerkan ke orang-orang. Di perjalanan ini aku berserah sepenuhnya kemana takdir akan membawaku.
Ada tips enggak untuk membangun komunikasi dengan traveler-traveler asing yang kamu temui? Atau memang dasarnya karaktermu juga terbuka jadi juga gampang ngobrol?
Anida bersama para backpacker lain dalam perayaan Australia Day di Perth - Australia
Kamu harus tahu dulu untuk apa kamu traveling. Untuk melihat-lihat tempat indah kah? Sebagai checklist been there done that kah? Atau memang mau membuka pikiran dan memperkaya pengalaman? Aku traveling untuk mencari pengalaman dan siap untuk petualangan apapun. Solo traveler lain pada umumnya juga memiliki alasan yang sama. Sama seperti aku, setiap traveler pasti senang ngobrol dan bertukar cerita seru dari belahan dunia lain. Kalau kamu sudah tahu prinsip itu, semua mudah saja.
Bagi seseorang yang sudah bepergian jauh selama 14 bulan, menurutmu apa itu definisi ‘rumah’ dan ‘pulang’ ? Ada enggak satu tempat dari sekian banyak yang sudah kamu kunjungi yang membuatmu merasa, this is my home, I feel really comfort here. :)
Yang pasti definisi ‘rumah’ sudah bukan lagi berupa wujud fisik bangunan beratap atau berdinding. Rumah adalah tempat di mana hati kamu merasa nyaman, dan itu ada di mana saja tidak harus di kota tertentu. Selalu ada hal yang membuatku nyaman di setiap tempat yang aku kunjungi. That’s the spirit of nomad.  Sebagai anak bungsu yang masih single dan berbakti kepada Ayah tercinta, untuk saat ini istilah ‘pulang’ masih kepada keluarga. Untuk kedepannya, siapa yang tahu?


--------
Jawaban-jawaban yang terkesan sederhana, tidak menggurui, namun bagi saya penuh dengan arti. Saya semakin menyadari bahwa ketika seseorang semakin banyak pergi dan mengenal belahan dunia lain, semakin tertunduklah hatinya terhadap semesta. Perjalanan 14 bulan yang dilakukan oleh Anida membuatnya melihat banyak hal baru, menemui banyak pejalan asing lainnya, dan tentunya merasakan banyak pengalaman baru. Masalah-masalah yang mampir pun membuatnya menjadi lebih tenang dalam menyikapi dan mencari solusi.
Doing solo trekking in Waitomo - New Zealand
Anida telah bekerja selama empat tahun di sebuah perusahaan desain, ketika memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di tahun 2011. Setelah berhenti, Anida mulai melakukan perjalanannya untuk melihat belahan dunia lain. Perjalanannya dimulai dengan 30 hari menyusuri Australia, berlanjut ke New Zealand, lalu belahan dunia lain seperti Maroko, Belgia, dan Prancis.  
Kini ia sedang berada bersama keluarganya di Yogyakarta, dan sedang mencoba untuk menuangkan kisah-kisahnya dalam sebuah buku. Jika kamu memiliki pertanyaan lebih tentang hidup Anida dan pengalaman-pengalamannya, dia terbuka untuk dihubungi melalui akun twitter @nidnod, dan silakan membaca pula catatan-catatan perjalanannya di web nonaransel.com. :)


[Questions and answers by email, pictures in Byron Bay, Perth, and Waitomo are belong to Anida. ^^]