Wednesday, January 18, 2012

Life Traveler - A Travelogue

Pernah nggak kamu aware sama orang-orang disekitarmu saat kamu lagi traveling ke Negara yang asing? Atau kamu cuma sibuk dengan rencana-rencana yang udah kamu susun dan memusatkan perhatian hanya pada obyek-obyek wisata yang kamu kunjungi ? Di buku ‘Life Traveler’ ini saya terbuai dan larut dengan penuturan Windy Ariestanty tentang pengalaman-pengalamannya saat berpetualang ke Negara asing. Bukan hanya penuturan tentang indah nya suatu Negara atau kota, melainkan pelajaran tentang hidup dari orang-orang yang dia temui. Membaur, itu kuncinya. Dengan membaur, Windy menjadikan dirinya bukan sebagai turis, melainkan sahabat baru bagi orang-orang yang dia temui di setiap Negara. Buku ini diawali dengan bab yang menceritakan persiapan Windy saat hendak melakukan long trip nya ke Negara-negara Indochina bersama beberapa kawan nya. Mulai dari antusiasme saat memperoleh tiket pesawat yang cukup murah, hingga keraguan saat hendak mengajukan cuti selama dua minggu. Pun proses mengepak baju dan perlengkapan traveling dia ceritakan dengan rinci tanpa menghilangkan unsur keindahan bertutur kata.

Perjalanan yang Windy ceritakan pertama kali adalah tentang Ha Noi, salah satu kota di Vietnam yang dijuluki ‘Kota Damai’. Ha Noi yang bak kota di masa silam, Ha Noi yang terik, Ha Noi yang damai ditengah kesemrawutan lalu lintas nya. Ada dialog yang menurut saya menarik tentang kebijakan lalu lintas di Vietnam yang memberlakukan batas maksimal laju kendaraan hanya 40km/jam, yaitu saat Windy iseng bertanya kepada salah satu pegawai, apakah supir bus yang akan mereka tumpangi bisa diminta untuk berkendara lebih cepat? Dan inilah jawaban pegawai tersebut yang membuat saya terpana : ‘Because this is a tourist bus. So you have to enjoy our country.’ Well yeah, benar juga. Salah satu tujuan traveling kan untuk menemukan dan menikmati hal-hal baru disekitar kita, so why bother to be hurry ? J

Buku ini berisi 18 cerita Windy saat melakukan perjalanan ke berbagai Negara, plus dua cerita dari dua sahabat Windy tentang perjalanan mereka. Dari 18 kisah yang disodorkan Windy, ada tiga yang saya ambil sebagai cerita favorite, tanpa mengecilkan makna dari 15 cerita lainnya, yaitu : ‘Ha Noi: The City Of Peace’; ‘ 10-10-10: Dalam sebuah Perjalanan Menuju Paris’; dan ‘Tentang Mereka yang Jatuh Cinta’. Oh yaa, ada satu bab berjudul ‘Bahasa Manusia’ yang membuat kita sadar bahwa bahasa yang berbeda bukanlah suatu halangan untuk berkomunikasi sesama traveler asing. Sebut saja kisah seorang Nenek Rusia yang nggak bisa berbahasa Inggris namun tetap bisa menikmati perjalanannya tanpa harus menjadi seorang yang hanya diam.

Anyway, saya akan sedikit cerita tentang efek yang diberikan setelah saya membaca buku ini. Jadi buku ini sengaja saya beli untuk menemani perjalanan saya di pesawat menuju Bangkok pada tanggal 14 Oktober 2011. Flight terlama yang pernah saya alami selama ini, yaitu Surabaya – Bangkok selama empat jam. Sepanjang membaca buku ini di pesawat, saya jadi kagum dengan Windy yang seolah begitu mudahnya menjalin komunikasi dengan orang asing. Well, I’m not that kind of person, saya yang dulu malah cenderung pemalu parah. Namun saat di tengah solo traveling saya di Bangkok, ada satu titik yang tahu-tahu saya menjadi begitu ‘gampang’ berkomunikasi dengan orang asing tanpa ada kecurigaan berlebih. Berawal dari disapa seorang pria asal Tibet di pasar Chatuchak dan berlanjut obrolan seru, iseng menyapa seorang pemuda Jerman saat di bus kota menuju hostel yang ternyata dia adalah dorm mate saya sendiri, sampai kemudian dipertemukan dengan dorm mate lain yang adalah solo traveler wanita Indonesia, dan kami bertiga –bareng si bule Jerman tadi- berbagi kisah seru masing-masing saat traveling. Perjalanan ke Bangkok itu adalah momen yang membuat saya sadar bahwa traveling itu nggak melulu tentang mencari tempat-tempat seru di suatu kota, tapi juga menjalin komunikasi dan berbagi cerita hidup dengan manusia-manusia baru disekitar kita, karena kita nggak pernah tahu kapan dan dimana kita akan dipertemukan dengan malaikat-malaikat penolong kita. Yap, secara nggak sadar kisah-kisah Windy memancing saya untuk menjadi lebih terbuka.

‘Kadang, kita menemukan rumah justru di tempat yang jauh dari rumah itu sendiri. And yes, wherever you feel peacefulness, you might call it home.’

‘Home is a place where you feel more comfortable. Home is a place where you can be and find yourself.’

‘Jangan pernah menjaminkan rasa kepada waktu. Ia punya masa kadaluwarsanya.’

‘Di antara keriaan, selalu ada cinta yang dirayakan dalam diam.’

‘The most important trip you may take in life is meeting people halfway (Henry Boye).’

Banyak sekali pelajaran hidup yang Windy petik dari manusia-manusia baru yang Ia temui, yang lantas Ia tuturkan dalam kalimat-kalimat yang quotable seperti diatas. Banyak juga tips-tips dan info yang Windy selipkan di setiap ceritanya saat mengunjungi suatu lokasi. Untuk merenung, untuk belajar, untuk panduan traveling, saya rasa buku ini buku yang lengkap. Salute, Windy ! J

~dinoy~

Info Buku

Judul Buku : Life Traveler

Genre : Non Fiksi, travelogue

Penulis : Windy Ariestanty

Penerbit : Gagas Media

Tahun Terbit : 2011

Harga : Rp 65.000

Wednesday, December 28, 2011

Traveling and,, You. :)

Gara-gara baca twit seorang penulis tentang definisi traveling menurut dia, selama dua hari (26 & 27 Desember 2011) aku jadi doyan ngetwitt quote-quote traveling menurut saya sendiri. Ceritanya nih seorang traveler yang selalu mengingat seseorang yang istimewa buat dia selama dia bepergian. Cieeee.... Well, i wrote in English but please pardon my fail grammar in some sentences.. ^^




someday, somewhere, I'll travel with someone i love. its a wish that would come true. :)

to travel is to take my body anywhere yet to take you nowhere but my mind.

how come in every traveling I've made i found you suits in every spots, though in every lil stuff i remind you.

to travel is getting off with the routine days but still keep connected with you in every single chances.

to travel is to get freezes in a winter-strange-country but then feeling warm just by your smile in my mind.

you are the only reason i'd travel more: not to keep you away but to keep you real in my mind,reason to misses you.

some travel just to see the world,some other to make a reflection,find the meaning of their life.

traveling can make me get to know with many people from any culture.But still,you're the one that i could easily remind me of.. a home.

to travel is to count every footstep in a strange land,as much as i could remember our first met til the day you smiling me. :)

to travel is to breath the different air everyday,meanwhile still could feel the air that we shared when laughing together. :)

to travel is to fall in love with new land,with the people inside,but not the person.coz i had you already. :)

traveling is also the art of packing the sufficient things and effort to put you in between.

to travel is to hug you from country to country,city to city. :)







Thursday, December 15, 2011

Review SeoulVivor : Serunya Jalan-jalan ke Korea ala K-Popers

Beberapa hari lalu saya mendapat kiriman buku SeoulVivor dari salah seorang teman baik yang juga adalah salah satu penulis buku tersebut. Well, I’m not (yet ?) a K-Popers, tapi jangan hanya terpaku sama tagline nya, karena saya enjoy kok dengan buku ini. Saya beberapa kali membaca buku tentang traveling, ada yang sifatnya sebagai travel guide book –dimana di buku tersebut kita akan mendapat banyak info praktis tentang spot-spot di suatu daerah- , ada yang sifatnya sebagai travel sharing book yang lebih menceritakan pengalaman-pengalaman unik si penulis selama traveling.Menurut saya SeoulVivor ada di kategori kedua, yaitu travel sharing book, tapi tentu saja di dalam nya juga banyak info-info dan tips yang kita butuhkan selama menjelajah Seoul plus Pulau Nami. Buku ini ditulis oleh dua orang, yaitu Lia dan Tatz, tapi bukan berarti mereka melakukan perjalanan bersama-sama. Biar saya jelaskan pembagian kenapa ditulis oleh dua orang ini : di awal-awal buku kita akan disuguhi cerita perjalanan Lia selama delapan hari di kota Seoul dan sekitarnya, sementara Tatz kebagian menulis kisah seru nya saat ke beberapa Hallyu Spots (tempat-tempat yang berkaitan dengan K-Pop dan K-Drama).

Saya suka dengan gaya bercerita Lia yang renyah dan membuat saya nggak berhenti untuk membacanya. Dia nggak malu untuk mengakui bahwa dia bukan traveler berpengalaman, namun justru melalui pengalaman-pengalaman yang diceritakan kita bisa memperoleh banyak info apa-apa saja yang harus do and donts selama mengunjungi Insadong, Dongdaemun, N Seoul Tower, Nami Island, dll. Nggak cuma bercerita melalui tulisan, buku ini juga dilengkapi dengan banyak gambar yang menjadi visualisasi mengenai spot-spot yang dikunjungi dan ngomong-ngomong, gambar-gambar kuliner nya berhasil membuat saya ngiler,yaaa... ;)

Untuk Tatz, dia berhasil menerangkan tentang beberapa Hallyu Spot yang dikunjungi dengan rapi, detil, dan nggak bertele-tele. Dari ceritanya kita bisa tahu kalau di Korea, nggak hanya artis nya yang beken dan aji mumpung dengan merambah dunia bisnis, tapi juga keluarga mereka jadi kena imbas popularitas mereka. Yah setidaknya kalau nggak bisa ketemu langsung dengan artis Korea yang diidolakan, kita bisa menikmati Pizza, Ice Cream, atau kuliner lain milik artis-artis tersebut. Ada trik bagaimana bisa belanja CD atau merchandise K-Pop dengan harga terbaik, juga pengalaman seru saat melihat langsung acara musik di salah satu stasiun TV top di Korea.

Meski nggak mengkategorikannya sebagai travel guide book dan lebih ke travel sharing book, tapi saya tetap bisa memperoleh ringkasan itinerary dan kisaran budget selama delapan hari di Seoul (+ Nami Island), jadi cukup berguna untuk bekal jalan-jalan kesana.

Oh ya.. yang menarik lagi dan menjadikan buku ini lebih aplicable, kita bisa dapet bonus kupon pertunjukan dan akomodasi lho di buku SeoulVivor ini, dan lumayan banget ada yang sampai 2013 masa berlakunya ! Menurut saya worth it banget lah untuk buku seharga Rp 51.000 yang juga full colors ini..

Yap, that was my first review about traveling book, menyusul buku-buku traveling lain yang saya punya yang belum sempat direview: Australia,Singapura,China,Jepang,Thailand, waahhh pe er saya banyak juga! Hehe.. Enjoy the book, traveler! ^^

Info Buku

Judul : SeoulVivor

Penulis: Lia Indra Andriana & Tatz

Penerbit: Penerbit Haru

Harga : Rp 51.000




It's All About Money ...


Wah, udah sebulan lebih nggak nge posting di traveling blog ku ini. And now im gonna sharing about one of preparation things to traveling abroad. Yap, selain kelengkapan imigrasi yaitu paspor dan visa, tentunya kita juga butuh nyiapin uang asing dong untuk bekal di Negara tempat kita traveling. Misalnya nih, kita udah nyiapin traveling itinerary ke Thailand selama 4 hari, dan dari situ ketahuan kalo kita memerlukan bekal uang sebanyak 2500 Baht, berarti kita juga kudu nuker duit sebanyak itu. Simple sih ya, tapi ada beberapa tips yang mau aku bagiin soal nuker mata uang asing ini :

  1. Beri jarak waktu yang cukup antara tanggal berangkat traveling dengan penukaran uang. Kalau saya biasanya maksimal seminggu sudah harus menukarkan Rupiah dengan uang asing sebanyak yang dibutuhkan, kenapa? Karena berdasarkan pengalaman beberapa kali nuker duit Dollar Singapura, Ringgit Malaysia, dan Baht Thailand, nggak selalu tempat penukaran uang yang dituju punya sejumlah yang saya butuhkan. Jadi kalau waktu nya masih cukup, kita masih bisa ke beberapa money changer untuk memenuhi kebutuhan uang asing kita.
  2. Cek dan bandingkan kurs mata uang asing di beberapa money changer. Yup, meski menukarkan di hari yang sama, tapi belum tentu satu mata uang asing dihargai dengan kurs yang sama lho, di money changer yang berbeda. Pengalaman saya saat menukar baht, di money changer terdekat dihargai Rp 310 untuk 1 baht, tapi saat menelpon money changer lain, kurs nya Rp 298, dan selisihnya lumayan karena waktu itu saya butuh beli 4000 Baht. Lain cerita, sekitar dua minggu lalu saya berniat membeli Ringgit Malaysia. Saya bertanya di salah satu money changer di daerah Blok M, dihargai Rp 3150 untuk 1 RM. Saya nggak langsung beli, tapi saya coba cek di money changer lain yang hanya berjarak beberapa langkah. Eh, dihargai lebih rendah yaitu Rp 2950, selisih Rp 200 tapi lumayan kalau dikalikan sejumlah yang saya beli, yaitu RM 100.
  3. Jangan beli terlalu banyak. Jika sudah yakin dengan itinerary yang disusun, sebaiknya tidak perlu menukarkan mata uang asing terlalu banyak. Karena tahu sendiri kan, kurs beli pasti lebih rendah dibandingkan kurs jual (baca kurs jual/beli nya dari sudut money changer ya, jadi kalau kurs beli berarti money changer nya yang beli uang kita, alias kita yang jual), jadi kalau uang nya masih sisa banyak dan kita mau tukarkan lagi ke Rupiah saat di Indonesia, biasanya kita akan mendapat lebih rendah dari saat kita membeli mata uang asing tersebut. Misalnya, saat ke Kuala Lumpur saya sudah menyusun itinerary dan budget saya untuk tiga hari adalah sebesar RM 150, jadi saya hanya melebihkan sebanyak RM 50 dan membeli sebanyak RM 200 (yang pada akhirnya hanya terpakai sekitar RM 122).
  4. Perlukah membeli Dollar Amerika sebagai back up? Beberapa teman menyarankan sebaiknya beli dolar saja, untuk kemudian ditukarkan dengan mata uang setempat saat sudah tiba disana. Alasannya sih katanya biar bisa lebih untung selisih kurs nya. Tapi saya sih orangnya nggak mau repot, pengennya begitu tiba disana udah enjoy aja sama petualangan saya, sudah nggak mau diributkan lagi masalah nuker-nuker duit. Tapi menurut saya, punya back up dolar ini perlu saat kita pergi ke Negara-negara yang ‘kurang favorite’, yang mata uang nya susah dicari di Indonesia. Atau juga saat kita nggak punya cukup waktu untuk menukarkan uang (poin 1), jadi begitu datang ke money changer terdekat, eh uang yang kita mau lagi nggak tersedia jadi ya beli Dollar Amerika saja.
  5. Mata Uang dengan pecahan besar. Money Changer memang jarang dan hampir nggak pernah menyediakan uang asing dengan pecahan kecil, apalagi koin. Biasanya mereka hanya menyediakan uang kertas dengan pecahan besar. Misal, 50 untuk dolar Singapura, 100 untuk Ringgit Malaysia, dan 1000 untuk Baht Thailand. Jangan khawatir, setibanya disana biasanya para pedagang welcome kok sama pecahan-pecahan besar tersebut. Ya, setidaknya saya nggak diprotes saat membeli SIM Card seharga 100 Baht dan membayar dengan uang 1000 Baht, nggak seperti di minimarket-minimarket di Indonesia yang sedikit-sedikit nanya, “ada uang kecil, nggak?” ;) Nah meskipun begitu, tetap usahakan mendahulukan uang kecil ya saat belanja atau bayar-bayar di Negara asing. Ya, biar gampang saat ada sisa uang dan kita perlu menukarkan kembali ke Rupiah. Saya pernah saat akan menukarkan Uang Kertas Ringgit Malaysia ke Rupiah di salah satu money changer di Plasa Semanggi, ternyata kurs beli nya berdasarkan pecahan uang kita. Jadi RM 50 dihargai Rp 2850, dan dibawah itu dihargai Rp 2800. Jadi bukannya nggak diterima selama itu masih uang kertas, tapi bisa beda kurs nya.

Nah itu tadi beberapa tips yang bisa saya bagikan berdasarkan pengalaman-pengalaman saya. JIka ada yang baca dan ternyata ada tips tambahan mengenai Uang Asing ini, boleh lho ikut kasi komentar. Happy Traveling ^^

Sunday, October 30, 2011

Solo Traveling?? Males banget...


Hmm.. berapa banyak diantara kita yang kalau mau jalan-jalan harus ribet dulu menentukan teman jalan, kalau nggak ada ya nggak bakal pergi? Emang kenapa sih kalau jalan-jalan sendiri? Kayaknya kalau jalan-jalan (baca:traveling) itu identik dengan rame-rame ya, well at least ada satu partner yang menemani ?? Di postingan saya yang lalu, tentang tips menentukan teman jalan, saya sempat menyinggung tentang tips menjadi seorang Solo Traveler. Tapi kali ini saya mau membahas lebih banyak tentang traveling yang dilakukan sendirian dan yah, masih berkaitan dengan traveling saya ke Bangkok yang lalu, yang merupakan perjalanan pertama saya ke Luar Negeri sebagai Solo Traveler.

Pertama, saya akan bahas dulu beberapa ketakutan ada hal-hal yang membuat sebagian orang enggan melakukan traveling sendirian. Takut nyasar, gak ada teman ngobrol jadi bosen, nggak ada temen diskusi kalau harus menentukan sesuatu, takut diganggu atau dijahatin warga lokal, dan ehm, nggak ada yang bisa ambil foto kita saat di spot-spot yang menarik, haha..

Tapi sebenarnya, buat saya traveling sendirian itu juga punya sisi plus kok, kita jadi belajar mandiri, bisa menentukan tujuan jalan-jalan sesuka hati tanpa harus berkompromi dengan orang lain, dan untuk yang cenderung pemalu dan nggak percaya diri seperti saya, bisa banget jadi ajang latihan buat nambah temen dari negara atau daerah lain. Yap, contohnya saya, saat saya ber traveling dengan teman, saya akan cenderung menghabiskan waktu untuk ngobrol ya dengan teman saya itu pastinya, dan cenderung cuek dengan orang sekitar. Tapi ketika saya sendiri, mau nggak mau saya didorong untuk membuka percakapan dengan orang lain. Misalnya saat di Chatuchak, Bangkok, ada pria Tibet yang ngajak saya ngobrol karena saat itu kami sama-sama sendiri, atau saat dalam perjalanan kembali ke Khaosan Road dari National Stadium, saya iseng nyapa cowok Jerman yang ternyata adalah temen dorm hostel sendiri.

Menurut saya, ada dua hal yang berpengaruh penting biar bisa nyaman ber solo traveling: Itinerary dan mental. Untuk hal yang pertama, Itinerary, sebenernya ini hal yang pokok banget harus dipunyai sebelum kita melakukan traveling sekalipun rame-rame. Namun menurut saya menjadi lebih penting lagi kalau kita traveling sendirian, karena saat kita sudah memiliki rincian yang jelas akan apa aja yang bakal kita lakukan saat di suatu tempat beserta biayanya, kita akan merasa lebih siap dan tentunya menjadi percaya diri (berkaitan dengan hal mental). Saya merasakan sendiri ketika hendak ber traveling ke Bangkok, kenikmatan nya sudah mulai saya rasakan saat dalam proses mempersiapkan segala sesuatunya untuk perjalanan yang singkat ini. Berbeda dengan saat saya hendak ke Singapura dan Kuala Lumpur, kesadaran bahwa saya akan melakukan solo traveling membuat saya menjadi lebih teliti dan repot menyusun itinerary. Segala kemungkinan-kemungkinan terburuk saya siapkan dan juga dicari solusinya. Saya nggak cuma melakukan riset lewat artikel-artikel di internet dan buku tentang Bangkok, tapi juga tanya-tanya ke beberapa temen yang sudah pernah melakukan traveling ke Bangkok. Saya nggak mau saya jadi bingung atau bego di tempat yang asing bagi saya, dimana bahasa lokal nya pun saya nggak paham. Oh by the way saya memutuskan untuk nggak mempelajari bahasa Thailand kecuali kata terima kasih, karena saya nggak punya cukup banyak waktu, dan menurut saya kalau saya belajar cuma sebagian saja, bisa-bisa saya malah bengong saat melontarkan pertanyaan dalam bahasa lokal dan malah dijawab panjang lebar dalam bahasa lokal juga. Haha! Jadi lah saya benar-benar menyusun itinerary ke Bangkok saya benar-benar secara detil kegiatan apa aja yang saya lakukan tiap hari, tiap jam, lengkap dengan moda transportasi yang perlu saya naiki dan juga biayanya. Itinerary Bangkok saya dapat dilihat disini. Ada juga yang merasa cukup menyusun itinerary secara general, misalnya hari ini mau ngapain aja dan kemana aja tapi tidak perlu ditulis per jam, tidak apa, itu semua tergantung gaya masing-masing traveler. Bahkan ada teman yang bilang sama saya dia nggak butuh itinerary tertulis macam itu saat ber solo traveling, semua sudah tertanam di otak dan tergantung kemana kaki ingin melangkah, itu juga nggak ada salahnya. Yang jelas, jangan sampai kita benar-benar buta akan tempat yang bakal kita kunjungi. Kenyataannya saat di lapangan, saya merasa terbantu dengan itinerary yang saya buat. Saya memang tidak melakukan kegiatan saya persis menurut jam-jam yang tertulis di itinerary, pun biaya juga nggak persis sama, ada yang lebih mahal tapi kebanyakan sih lebih murah. Lagi-lagi nggak masalah, karena pada dasarnya itinerary adalah sebuah panduan untuk kegiatan mandiri kita.

Sudah siap dengan itinerary, hal berikutnya adalah mental. Seperti yang saya bilang tadi, itinerary yang cukup akan membantu kita menjadi lebih percaya diri. Kenapa begitu ? Karena saat kita udah merasa nyaman dengan diri kita sendiri, maka kita akan lebih nyaman berinteraksi dengan sekitar. Mental yang lain yang perlu disiapkan adalah berkaitan dengan ketakukan menjalani solo traveling, yaitu misalnya takut diganggu atau dijahatin orang. Hal yang kayak gini perlu dilatih di kehidupan kita sehari-hari. Misalnya saya sekarang tinggal di kota Jakarta, maka saya melatih diri saya untuk sering-sering pergi sendiri dan menggunakan moda transportasi umum. Sering saat saya melakukan hal ini saya bertemu dengan beberapa orang yang iseng ngajak ngobrol, atau orang-orang yang tingkahnya mencurigakan yang membuat saya bersikap lebih waspada. Saya juga pernah mengalami kejadian kecopetan yang nggak ngenakin banget tapi akhirnya jadi pembelajaran yang berarti. Jika di kota tempat kita tinggal kita sudah terbiasa jalan-jalan sendiri dan menggunakan transportasi umum (yang memungkinkan kita untuk berbaur dengan orang-orang dengan berbagai karakter), maka sebenernya mental itu sudah terbentuk dengan sendirinya. Di Bangkok saya nggak merasa aneh jalan-jalan sendirian, biasa saja, saya nggak menunjukkan tampang bingung sehingga orang sekitar juga nggak aneh dengan keberadaan saya. Memang ada kalanya saya loosing clue dengan hal yang saya cari, dan itulah saatnya bertanya dengan orang sekitar. Ada juga kejadian saya diikuti dengan warga lokal yang merepet dalam bahasa lokal. Tingkahnya mencurigakan, sempat sedikit takut tapi saya berusaha tenang. Saya membiarkan orang itu jalan duluan melewati saya sambil terus ngomel dan melihat saya. Saat itu di tempat umum jadi saya nggak terlalu merasa takut. Ketika menemui hal-hal yang mencurigakan kuncinya adalah tenang, jangan tunjukkan muka panik, malah kalau bisa tunjukkan muka kalau kita bisa lebih galak dari dia, hehe..

Untuk 'ketakutan-ketakutan' lainnya saat hendak ber solo traveling, misalnya takut bosen, nggak ada teman yang motoin kita, well.. banyak cara untuk mengatasinya,haha.. Misalnya untuk mengatasi rasa bosan, kita bisa bawa buku-buku favorite kita atau mendengarkan musik lewat Ipod atau MP3 Player. Atau kalau kita emang doyan ngobrol, ya ajak ngobrol orang disekitar kita dengan sopan dan jangan sampai mengganggu, maksudnya ajak ngobrol orang-orang yang menunjukkan gelagat mau diajak ngobrol. Kalau dia hanya menjawab sepotong-sepotong dan tampak gak mau diganggu, ya ajak yang lain. Saya sih percaya bahwa kalau kita mau terbuka, sebenernya kita nggak bener-bener sendirian kok saat ber traveling, karena kita bisa ketemu temen baru yang bukan nggak mungkin bisa kita ajak jadi temen jalan kita kalau emang tujuannya sama.. :)

Terus masalah dokumentasi, terutama buat yang narsis, hehe.. sekarang kan ada kamera tripod, atau kamera yang bisa disetting timer nya.. Atau kalau kita mau, kita kan bisa minta tolong orang untuk ngambil gambar kita. Satu spot satu foto dengan kita didalamnya sih, saya rasa cukup ya..
Jadi sebenernya, nggak ada alasan untuk nggak ber solo traveling. Kalau saya pribadi, mau solo traveling atau bareng-bareng temen nggak jadi soal. Ada kalanya saya ingin menyendiri, disitu lah saya memutuskan bertraveling sendiri, ada kalanya juga saya pengen traveling dengan teman jadi lebih rame, ya tinggal ngajak temen atau ikut rencana traveling mereka yang menarik hati saya. That is just simple, if you are really desire to traveling, you will do many thing to get that! *winks*