Thursday, May 29, 2014

Selalu Ada Pelangi

Ada yang ingat asal-usul terjadinya pelangi? Bagaimana mungkin seusai hujan yang dimuntahkan awan lantas terbentuk lengkung serupa busur terdiri atas tujuh warna? Tentu ada teori tentang terjadinya pelangi yang berhasil dirumuskan oleh mereka yang pintar. Namun yang kuingat dari cerita masa sekolah mingguku dulu, pelangi timbul pertama kali usai hujan berkepanjangan yang menimpa dunia masa Nabi Nuh. Kala Sang Penguasa memilih untuk membentuk ulang bumi ini dengan memusnahkan seluruh penghuninya, terkecuali orang-orang pilihannya; keluarga Nabi Nuh beserta satwa sepasang dari tiap jenis. Lalu, setelah hari yang ditentukan usai, Tuhan membuat tanda perjanjian bahwa peristiwa serupa itu tak akan terjadi lagi. Dan materai perjanjian itu diwujudkan lewat hal yang indah. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Pelangi.

Maka terciptalah suatu kebiasaan, bahwa sehabis hujan akan muncul sebusur pelangi. Sayangnya, aku tak selalu beruntung. Sering, usai hujan, aku akan terpaku menatapi sudut langit-langit—ya, seolah-olah langit memiliki sudut saja—dan berharap akan dapat melihat warna-warna indah itu. Tidak, aku tak selalu menjumpainya. Hingga aku lupa untuk mencarinya, dan terkadang tahu-tahu dia menampakkan dirinya sendiri. Kadang kutatapi dengan takjub, kadang aku memandang sambil lalu.

Hari itu, katakanlah, aku sedang beruntung. Bagaimana tidak, aku dapat mencapai Selebes[1] hanya dengan tiket penerbangan seharga kurang dari seratus lima puluh ribu rupiah, pulang-pergi! Berkat merespons cepat pada penawaran promo sebuah maskapai penerbangan yang baru membuka rute Jakarta-Makassar, aku mendapatkannya. Cita-citaku untuk menjejak setiap pulau besar di negeri ini terwujud selangkah lagi. Kalimantan sudah terwujud kala mengunjungi Balikpapan di tahun 2012, lalu Sumatra di awal tahun 2013 dengan mengunjungi beberapa kota di Provinsi Sumatra Barat. Dan kini, Juni 2013, Pulau Sulawesi akhirnya kujumpai. Sebuah keberuntungan yang menuju pada keberuntungan lain. Menjumpainya. :)

Ada beberapa tempat yang kusinggahi kala berada di ibu kota Sulawesi Selatan. Dan salah satunya, adalah Fort Rotterdam. Kawasan bersejarah yang namanya memiliki nuansa negara yang pernah menjajah Indonesia selama tiga setengah abad. Menjumpai bangunan-bangunan tua sebagai salah satu warisan sejarah Kesultanan Gowa, dengan area nan sejuk karena pepohonan yang menaungi. Karena sendiri saja, maka aku memiliki waktu bebasku sendiri di sini. Asyik memotreti bangunan-bangunan yang mengelilingiku, pun mengabadikan tanaman-tanaman yang tertata asri. Saking asyiknya, hingga aku baru menyadari ada tetesan tipis menghampiri ragaku. Hujan. Aku bergegas, berteduh di bawah atap bangunan, di salah satu sudut. Aku melirik jam tangan sambil berharap hujan tak akan terlalu deras dan tidak lama, karena aku memiliki janji bersama beberapa kawan yang akan mengiringi perjalananku selama empat hari ke depan.

Dan sembari menunggu kepastian alam berpihak padaku, mataku mengedari kawasan tua nan terawat ini. Sejarah berkaitan erat dengan kenangan. Faktanya, benteng ini merupakan benteng paling megah di antara tujuh belas benteng yang dimiliki Sultan Gowa pada abad ketujuh belas. Benteng yang dibangun pada tahun 1545 ini pernah hancur karena penyerangan tentara Belanda. Mereka yang menghancurkan, mereka pulalah yang membangunnya kembali. Makanya namanya kemudian menjadi Fort Rotterdam. Pada awalnya, tentu tak begitu. Benteng Jumpandang, demikian nama asli benteng ini kala dibangun pertama kali oleh Kesultanan Gowa.

Selalu ada pengharapan usai keputusasaan. Selalu ada penghiburan usai kedukaan. Dan aku tersenyum kala Tuhan mengabulkan harapku. Hujan berhenti, karena ketika kutengadahkan tanganku untuk memastikan, rintik itu hampir tak terasa. Merasa tak mau menyiakan waktu, aku kembali melangkah, kali ini lebih masuk ke area belakang kawasan yang menjadi kebanggaan warga Makassar ini. Mungkin karena jalanan aspal yang menanjak, atau beban yang ditanggung punggungku karena menyangga ransel besar berukuran lima puluh liter; aku pun mulai terengah. Dengan napas yang tak seprima sebelumnya, aku berhenti, melepas beban itu dan membiarkannya di aspal, lalu kuletakkan tubuhku sendiri di sebuah dudukan. Menengadah dan, Puji Tuhan, sungguh aku beruntung hari ini! Di sana kulihat lengkung warna-warni itu. Meski tidak tebal benar penampakannya, tipis, tapi cukup jelas terlihat. Hei, tak hanya doaku terkabul karena telah sampai di pulau indah ini tanpa merogoh kantong terlalu dalam, juga cuaca yang bersahabat, tetapi bonus yang ada jauh di atas kepalaku ini sungguh membuatku terhibur!

“Sungguhkah? Haa!”

Aku bergumam sendiri. Tak mengapa, karena tak ada pengunjung lain di dekatku saat itu. Mataku terus kukedipkan, sekadar memastikan. Namun busur warna-warni itu masih nyata di atas sana.


[Fort Rotterdam, Makassar, 05 Juni 2013]

Selalu ada pelangi seusai hujan. Mungkin kita tak selalu melihatnya, tetapi percayalah bahwa dia ada.... Serupa pengharapan yang selalu ada disediakan oleh Tuhan bagi kita.... :)


[1] Nama lain Pulau Sulawesi

Monday, March 31, 2014

[Sekali Lagi Tentang] Berkemas ...



Mari bicara tentang berkemas, sekali lagi.... Biar kumulai dengan mengatakan ini; aku tak pandai berkemas. Karena berapa hari pun aku pergi, tetap saja ranselku akan berbeban berat dan membuncit. Aku tak paham bagaimana mengepak yang baik, pun cara memilih barang-barang yang perlu dan tidak. Rupanya, aku sadar satu problemaku; bahwa aku mengetahui begitu besar rongga yang dimiliki tas punggungku, sehingga aku merasa aman menjejalkan semuanya. Baju bertemu dengan buku, komputer jinjing bersentuhan dengan sepatu, handuk setengah basah dilipat begitu saja dan terbungkus plastik, atau peralatan mandi dan pakaian dalam yang tak memiliki cukup sela. Dan akibatnya, aku akan menanggung buntelan itu dan lama-lama punggungku menjadi lelah. Berbeban berat, tanpa tahu bahwa tak semuanya aku perlukan atau tertata dengan benar.

Lalu, aku menemukan satu pengertian lagi. Karena rupanya demikian pula dengan hati. Bahwa aku sering merasa hatiku cukup luas untuk menampung segala. Aneka rupa kenangan bertumpang-tindih; bergesekan dengan kebahagiaan dan bertukar sapa dengan kemarahan. Aku tak menyadari ketika aku tak dapat mengatur rongga-rongga hatiku, maka selanjutnya aku akan berjalan dengan tertatih. Sebentar tersenyum, sedetik kemudian curiga. Hatiku dipaksa membawa semuanya dengan tidak beraturan. Aku lupa bahwa aku harus mengatur ulang agar ia tidak merasa letih lagi. Aku abai dengan segala peringatan dan tanda yang ia berikan, bahwa ia tak sanggup lagi menampung semuanya dengan berantakan. Alhasil, aku bagaikan pengelana yang membawa hati compang-camping, robek di sana sini, segala isinya berdesakan minta dikeluarkan. Tidak betah. Dan ketika aku sadar semua itu terjadi, aku sudah jatuh terkulai, menangis dengan berbagai sebab, dan menyepelekan segala kebahagiaan yang pernah tercipta.

Aku merasa... menjadi orang paling nahas sedunia. :(

Satu April dua ribu empat belas, menjelang pukul tiga dini hari; dua belas jam sebelum menuju Jakarta.

Thursday, March 6, 2014

Tamu VIP !! *kisah semalam di The Buoy Hostel, Manila!*

"So, how long you'll stay here in Manila?" 
tanya pak sopir taksi yang, yah aku tahu dia hanya berusaha ramah, tapi sumpah deh aku capek banget! Ini adalah perjalanan pertamaku di Filipina, dan merupakan hari ketigaku di negara ini. Hari pertama, pagi hari sampai di Manila dan aku sempat muter-muter nggak jelas menggunakan bus bandara dan MRT-nya beberapa jam, lalu siangnya terbang ke Cebu, sebuah kota di pinggir laut. Menghabiskan dua setengah hari di kota dengan ambience tenang ini, lalu di sinilah aku malam ini, kembali menekuri jalanan kota Manila yang... berantakan! Hah, maaf kalau aku menilai buruk terhadap kota ini, tapi firasat nggak enak sudah kurasakan semenjak pertama menginjakkan kaki di kota ini. Dengan suasana yang crowded banget di stasiun MRT-nya, gerbong kereta yang sudah penuh sesak tapi tetap menerima penumpang-penumpang baru, dan terlebih tadi, sebelum naik taksi ini. 

Ah, gilak! Nyasar di sebuah negara asing tak selamanya menyenangkan ternyata. Ya, ya, mungkin ini kemakan ucapan sendiri: I need to get lost, and get lost needs no itinerary*. Hehehe, merasa akrab dengan kalimat itu? :) Nyatanya, menyasarkan diri di sebuah kota asing tanpa rencana yang jelas juga berarti siap-siap memanggul ransel berat tanpa arah, pegal, lelah, hidung siap diserbu bau pesing jalanan Manila, ugh... jorok banget sih! Yaps, hal-hal tadi yang kurasakan sebelum akhirnya menyerah untuk menaiki taksi ini menuju hostel yang sudah kupesan berada. (baca tentang kisah tersasarku di Manila di sini).

Selama bepergian ke luar kota dan luar negeri, bisa dihitung pakai jari banget deh aku naik taksi kayak begini. Alasan utamanya tentu aja ngirit, karena aku nggak pernah membawa bekal uang terlalu banyak saat traveling. Paling ingat waktu naik taksi di Bangkok. Sama juga kasusnya, baru mendarat di bandara, terlalu malam untuk menuju hostel, bingung mau naik transportasi massal apa ke sana, akhirnya naik taksi deh! Bedanya, kalau pas di Bangkok** aku masih pakai acara tawar menawar dengan pak sopir cakep, yang tadi aku langsung naik saja sambil menyebut nama jalan yang kutuju. Nggak pakai nawar! Huh, pede gila! Tapi tentu saja setelah itu mataku tak lepas menatap argo taksi diselingi melirik luar jendela. Capek sih capek, tapi khawatir duit nggak cukup ya tetap ada. Aku bahkan seperti kurang menghargai pak sopir yang terus mencoba ngobrol dengan ramah. Duh, maaf banget ya, Pak!

"And here we go...," ucap lelaki ramah itu. Hore, kami telah sampai!! Dan puji syukur kepada Ilahi karena ternyata argo menunjukkan ongkos yang tidak mahal. Lupa berapa persisnya, yang jelas masih jauhlah dari sisa uangku saat itu. Aku mengangsurkan pembayaran, sambil menyebut nominal kembalian yang perlu dia berikan untukku, aku bulatkan sedikit untuk tip bagi kebaikan dan keramahan beliau. :) Pheeew! Aku kembali menyandang carrier-ku dan melangkah mendekati bangunan itu. Kucermati baik-baik... sebuah bar? Sudah nggak asing lagi bagiku, kalau hostel sering kali juga merangkap sebagai kafe atau bar, seperti yang kujumpai di Bangkok. Kutatap lagi lekat-lekat plang namanya. Benar, kok, The Buoy Hostel. Aku pun memasuki pintu bar dengan yakin, menyapa salah satu pelayan wanita yang pertama kutemui dan menyampaikan maksud kedatanganku. Kuangsurkan selembar print out booking-an hostel kepadanya.

"Wait here for a minute," pintanya. Aku mengangguk saja, sambil mengamat-amati  sekeliling. Hm, suasana bar saat itu terasa santai. Tak banyak tamu, musik mengalun tak seberapa kencang juga. Mencoba menyibukkan diri dengan melihat-lihat menu, mencari-cari tanda visa atau master dan tak menemukannya; membuatku urung ikut memesan makanan atau minuman di bar ini mengingat uang sakuku yang semakin menipis. Huft, mana sih si Mbak tadi? Lama amat, jangan sampai aku harus memesan minuman mahal nih di sini saking lelahnya menanti! Entah apa yang dia diskusikan dengan petugas lain di dalam, tapi akhirnya dia kembali menemuiku dan mengurus pembayaranku. 

Kelar dengan urusan pembayaran, dia pun mengantarkanku ke tempat aku akan beristirahat. Keluar melalui pintu samping, berjalan ke belakang, hoo... ternyata si hostel terletak di belakang bar dan menjorok ke dalam. Aku pun dioper kepada seorang cowok yang menjadi penjaga hostel. Mereka berdua memperbincangkan sesuatu lalu si Mbak pergi meninggalkanku dengan cowok Filipina yang wajahnya juga berunsur melayu ini. Aku tersenyum basa basi, dia menyapa dan menanyakan namaku, lalu kami berjalan menuju dorm yang telah kupesan; sebuah dorm khusus wanita. Dan... di sinilah keterkejutanku dimulai! Seharusnya, aku sudah mulai merasa aneh tatkala si cowok membuka salah satu kamar di lorong itu dengan sebuah kunci. Namun mungkin aku terlalu lelah untuk menyadarinya, hingga terbukalah pintu dorm itu, dan...



Do you see what I see?? Ya, benar, di sana terdapat empat bunk bed yang berarti kamar itu dapat diisi oleh delapan orang. Namun, apakah kau melihat ada orang lain di sana selain jaketku yang kugeletakkan sembarangan di salah satu ranjang? Yup, foto ini kuambil tentunya setelah sang petugas meninggalkanku. Dan foto ini bukan aku ambil setelah menunggu semua pengunjung pergi... karena nyatanya,

"Am I alone in this dorm??"

"Yes, apparently there's no  other customers at this time."

Woah! Aku melongo saja mendengar jawaban si cowok. Dia mengajakku masuk dan menjelaskan standar tentang isi dorm. Melihat-lihat kamar mandi, dan hal-hal lain yang standar saja. Tapi aku masih belum selesai dengan keterkejutanku. Sampai dia pergi dan memberikan kunci kamar padaku. Nginap di kamar seluas ini... sendirian? Are you kidding me?? Haha, bukannya apa-apa, toh aku juga biasanya tinggal sendirian di kamar kos -yang pastinya nggak seluas ini. Tapi... ini dorm hostel gitu lho, di luar negeri gitu lho, gimana kalau.... Stop! Aku mencoba mengusir bayangan aneh-aneh itu jauh-jauh dan akhirnya berlanjut dengan terkikik sendirian! 

Huahahahaha!! Aku pun kembali pada semangat traveling-ku untuk mengalami segala hal yang serbabaru, termasuk, ya tidur di dorm gede ini SENDIRIAN!! Aku meletakkan ransel, membongkar beberapa barang dan meletakkanya di salah satu ranjang. Sambil mengingat-ingat lagi dan bersyukur, untung saja hanya semalam! Huehehe, maka kekhawatiranku akan kesendirian ini beralih menjadi menikmati menjadi tamu VIP di dorm ini selama beberapa jam ke depan!

Review cepat tentang suasana di dorm The Buoy Hostel ini. Cukup nyaman, dengan kamar mandi dalam sejumlah satu buah yang lumayan bersih juga. Tidak ada AC, tapi ada kipas angin tertempel di dinding. Seperti ini:


Oh ya, ada deretan loker juga untuk menyimpan barang, di dekat kamar mandi. Namun aku tak memedulikan loker itu, toh hanya semalam dan sekali lagi, SENDIRIAN! Aku meletakkan ransel besar di lantai, barang bergeletakan di ranjang. Bahkan, saking menghayati suasana menjadi tamu VIP ini, aku juga mengunci pintu kamar dan mandi dengan seenaknya. Ehm, dalam arti seenaknya, aku bebas saja keluar-masuk kamar mandi dengan telanjang bulat untuk mengambil pakaian bersih atau peralatan mandi yang tertinggal! Upppss... :D Sudah seperti saat aku kos dengan kamar mandi dalam di daerah Fatmawati aja di tahun lalu! Huahahaha!!

Lalu, setelah merasa segar dan bersih, perut pun keroncongan. Mau tak mau aku keluar mencari makan, mengabaikan saat itu sudah menjelang tengah malam. Masih tak tahu mau makan apa, ternyata aku menemukan ada Seven Eleven di dekat sana. Hihihi, aku tertawa lagi. Lagi-lagi diselamatkan oleh minimarketnya para alay ini, nggak di Jakarta... nggak di Manila. Bingung mau memesan makanan instan apa, akhirnya aku memilih suasana Korea:


Nasi kotakan ini pun aku nikmati sendirian di dalam kamar, dan bodo amat deh dengan sampahnya, aku kumpulkan saja di plastik dari Sevel tadi dan taruh begitu saja di lantai. Toh nggak akan ada roommate yang protes, besok sajalah aku buang! XD 

Waktu-waktu selanjutnya kuhabiskan dengan, seperti biasa kalau sedang berada di hostel dengan fasilitas wifi, browsing!! Internetan, ngetwit, ngecek e-mail kerjaan (yeah, masih ada naskah yang harus dicek), dan lain-lain sampai benar-benar ngantuk dan tertidur. Esoknya, antara lelah, uang saku yang benar-benar ngepas, juga stuck dengan kondisi Manila yang suasana kotanya semrawut, aku pun memutuskan untuk nggak ke mana-mana lagi. Sempat memang terpikir mau mampir ke satu tempat saja, Mall of Asia yang terkenal itu. Masa, sih, udah di Manila tapi nggak ke mana-mana? Tapi aah, males deeh, harus mikirin ke sana naik Jeepney atau MRT apa? Makannya di sana habis berapa? Terus ke bandaranya gimana... akhirnya ya aku habiskan aja sisa-sisa waktuku menjadi tamu VIP di kamar ini. Mengingat jadwal terbang kembali ke Jakarta juga masih sore menjelang malam, ini yang kulakukan selama di kamar:


Ada yang tahu itu music video dari lagu apa?? Hihihi, itu One Direction yang judulnya "Best Song Ever"! Aku benar-benar memanfaatkan fasilitas Internet buat streaming yang selama ini jarang kulakukan, sambil selonjoran nggak jelas di ranjang. Sekali lagi juga demi menghayati kebebasanku menjadi tamu VIP, total ada tiga bunk bed yang sudah kucicipi! Satu bunk bed buat naruh beberapa barang, satu buat tidur pas malam, satu lagi buat selonjoran sambil ngenet di pagi sampai siangnya. Lihat aja kamarnya kayak gini:


Bebas, siiisst!!! Hihihi... kapan lagi ya kan kayak begini? Tapi sebenernya kalau disuruh milih, nggak lagi-lagi deh di dorm yang gede hanya sendirian, keruan aja kalau di kamar privat, ya kan? Bukannya takut, tapi, eh... ya oke ngaku deh ada sedikit takut kalau bukan aku sendirian yang ada di sana sebenarnya! Hiii.. :D

Waktu semakin berlalu, perut terasa lapar, akhirnya sekitar pukul 12 siang lewat aku benar-benar check out mau ke bandara sekalian cari makan. Oh ya kondisi hostel di luar kayak begini nih setelah aku foto dalam kondisi terang:



What do you think? Not bad, kan?? Menurutku, hal-hal seperti ini memang di luar dugaan kita dan yang bisa dilakukan ya dinikmati ajaa! Tapi, kalau kamu orangnya bener-bener gampang khawatir dengan kondisi sendirian seperti ini ya, saranku sebelum benar-benar berangkat, bisa dipastikan dulu ke pihak hostel. Misalnya seminggu sebelumnya, tanya via e-mail berapa orang yang akan menemanimu dalam satu dorm. Toh kalau dibatalkan nggak akan rugi banyak, maksimal 10% uang muka biasanya. Tapi kalau kamu orangnya traveler cuek kayak aku, stay calm aja laah.... Kapan lagi kan jadi tamu VIP dengan dana cekak?? XD

*diambil dari novelku yang bertema perjalanan dan romantika: Get Lost
** cerita lengkapnya ada di buku catatan perjalananku: Antravelogi (promo colongan, hehe)



Monday, January 20, 2014

ANTRAVELOGI ~ sebuah catatan perjalanan yang akhirnya lahir. :)


Yay, puji Tuhan.... Setelah penantian dan proses yang cukup lama, akhirnya saya bisa melihat satu impian saya tercapai: menampilkan satu karya saya di rak buku perjalanan di toko buku Gramedia. :D Yup, saya senang melakukan perjalanan, sebuah proses untuk menghilangkan jenuh yang berbuah pengalaman-pengalaman baru. Saya pun suka membaca, yang membuat saya juga menyenangi membaca kisah-kisah perjalanan yang tertuang di dalam buku. Dari dulu rak favorit saya ketika ke Gramedia pastilah rak novel, fiksi. Tetapi, sejak tahun 2011 saat ke toko buku pasti saya menambahkan rak buku perjalanan sebagai tujuan favorit lainnya. Baca juga di artikel ini, saat saya menuliskan bagaimana buku-buku perjalanan mulai menjadi tren. :) Saya pun berpikir, kapan ya saya bisa menulis jalan-jalan saya itu menjadi catatan-catatan yang terdokumentasikan dalam sebuah.... buku??

Hingga akhirnya gayung itu bersambut di bulan Februari 2013. Jika saya ceritakan akan jadi amat panjang, jadi begini coba saya ringkaskan: Mulai tahun 2012 (awal? pertengahan? maafkan short memory saya :D) saya memang sudah coba membuat outline tentang naskah yang berisi catatan perjalanan. Saya mulai banyak membaca buku perjalanan dari yang bersifat panduan sampai travelogue. Konsep naskah pun berubah beberapa kali. Hingga akhirnya sekitar bulan November 2012, saat saya masih setengah menyusunnya sembari melihat persyaratan naskah di beberapa penerbit, takdir mempertemukan saya dengan salah satu editor di Bhuana Ilmu Populer yang bilang kalau tempatnya bekerja sedang mencari naskah bertema perjalanan. Saya girang dan bersorak dalam hati. Ya Tuhan, tepat sekali di saat saya sedang memerlukannya!! Lebih cepat sedikit lagi ya, akhirnya di awal tahun yaitu Januari 2013, naskah utuh saya pun jadi. Konsepnya dibagi menjadi tiga bagian: cerita-cerita perjalanan saya di beberapa tempat dengan gaya naratif, beberapa tips praktis berkaitan menyiapkan perjalanan, dan juga ringkasan itinerary dari perjalanan-perjalanan yang saya ceritakan.

Hasilnya.... Tidak menyangka bahwa BIP akan merespons secepat itu, kalau tidak salah tak lebih dari sebulan (dari jangka waktu 50 hari yang dijanjikan). Yay, mereka bilang mereka suka konsep tulisan saya yang di bagian pertama yaitu bagian naratif, tetapi mereka ingin melakukan beberapa revisi dengan meniadakan dua bagian lainnya karena itu sudah banyak di buku-buku panduan. Mereka ingin lebih fokus ke penceritaan saya selama berjalan-jalan. Saya bilang, tak masalah, toh tak sampai melanggar banyak konsep utama saya. Dari e-mail, berlanjut telepon, lalu bertemu di kantor BIP. Dan setelah itu saya berkutat dengan revisi-revisi, meminimalisir porsi penjelasan teknis dan memperkuat di cerita. Beberapa bulan kemudian saya ajukan lagi, hm, Mei mungkin ya karena saya juga terkendala kesibukan kerja di kantor. Lalu sempat beberapa kali berkabar dengan pihak editor, lalu diam lagi dan saya pikir itu adalah masa antre karena ada naskah lain jadi tak masalah. Malahan, ketika bulan Juni naskah kedua saya yang bergenre fiksi tetapi ada unsur perjalanannya juga diterima oleh BIP, naskah inilah yang lebih dulu lahir, judulnya Get Lost:

Get Lost malah duluan lahir yaitu di bulan November sudah mulai ada di toko buku Gramedia di Jakarta dan sekitarnya, lalu mulai menyebar di kota-kota lain di Indonesia. Memang benar, menunggu akan menjadi menjemukan jika kita tidak melakukan apa-apa. Lewat proses penyusunan naskah Antravelogi dan juga proses menunggu pengerjaan di penerbit ini saya diajarkan; dari yang awalnya benar-benar mengharap cepat keluar, lalu mulai 'melupakan' penantian itu dan mengerjakan hal lain. Akhirnya saya bisa melihat kalau kita tak berpatok pada satu hal saja niscaya kita akan lebih dapat maksimal. Saya jadi tak mempermasalahkan mana yang lebih dulu terbit karena saya tahu semuanya memiliki prosesnya masing-masing.

Hingga akhirnya, Desember 2013, di penghujung tahun, proses penyuntingan Antravelogi selesai sudah. Editing, layout, proofreading, juga kovernya diberitahukan kepada saya seperti ini:


Saya yang masih diselimuti euforia karena kelahiran Get Lost, merasakan semangat lebih lagi dengan kabar selesainya Antravelogi ini! Dan, kemarin, 20 Januari 2014 ketika saya berkunjung ke Gramedia Pejaten Village... saya bisa bernapas lega dan merasakan sukacita penuh ketika melihat akhirnya karya solo saya tampil juga di rak buku-buku perjalanan di Gramedia! Yay, Puji Tuhan!! Oh iya, tidak untuk melupakan bahwa sebenarnya ini bukan benar-benar yang pertama sih karya saya ada di rak ini. Karena di bulan Juli 2013 pun ada satu buku kompilasi catatan perjalanan terbitan DIVA Press yang memuat satu cerita saya juga, seperti ini:


Tetap membanggakan, meskipun jika dilihat dari luar saja orang tidak tahu ada nama saya, tetapi itu untuk pertama kalinya saya menang lomba menulis yang hasil tulisannya dibukukan (ada 30 penulis di sana). :)

Semuanya adalah proses. Dari Traveling Note Competition, Get Lost, lalu Antravelogi... semua ada proses pengerjaan dan masa tunggunya. Sebuah perjalanan yang membuat saya akhirnya sadar, tak ada mimpi yang terlalu muluk, tak ada harapan yang terlalu mustahil; hanya saja, maukah kita mengikuti proses yang Tuhan syaratkan untuk mencapainya? :)
Selamat membaca, semoga berkenan. :)

Wednesday, October 9, 2013

Get Lost in Manila!

“Is  it your first time here? You will get lost...”

What? Ah, saya nggak terima dengan perkataan petugas tourist centre ini. Oh, lets back for a moment before. Rewind.... rewind....

Saya baru saja mendarat di Ninoy Aquino International Airport, Manila, dari kota Cebu. Waktu sudah beranjak malam, sekitar pukul setengah delapan. Saya berjalan menuju salah satu sudut yang bertuliskan tourist centre, hendak bertanya pada petugas di sana. Ada seorang pria yang yah, berwajah cukup tampan menurut saya.

“Excuse me, I want to ask, I want to go to Pablo Ocampo Street. Do you know how to get there?”

“Sure, you can take taxi,” jawabnya singkat.

Can I take public transportation like MRT or Jeepney?” saya masih meminta informasinya.

No,” dia menggeleng.

Why? My friend said that I can take MRT.” Saya nggak membual, ini adalah hari ketiga saya di Filipina. Di hari pertama, saya sempat beberapa jam di Manila sebelum bertolak ke Cebu City, dan sempat ngobrol dengan orang Indonesia juga yang sepenerbangan dengan saya.

Is it your first time here?” Dia balik bertanya, wajahnya tampak meragukan saya.

Yes...” Saya menjawab dengan menggantung, tidak suka sebenarnya diremehkan seperti ini, tetapi kan saya memang memerlukan informasi detail untuk menuju hostel.

You will get lost if you don’t take taxi.”

Saya menunjukkan raut muka kecewa dengan lebih terang-terangan karena perkataannya barusan. Saya mulai menyesal bertanya padanya.

So I have to take taxi? My friend said that I can go there by MRT through Pedro Gil station. Ah, alright...” Saya siap berlalu.

Hei, maam... You can take bus, HM Bus, ask the driver to take you to the MRT station, okay!” 

Mungkin, dia merasa tidak enak juga setelah melihat saya kecewa, tapi ya sudahlah. Saya bergegas menuju bus putih yang akan membawa para penumpang ke pusat kota. Pilihan yang lebih terjangkau daripada taxi. Di hari pertama saya sudah mencoba menggunakan bus ini, yaitu ke Baclaran, dan di sana ada stasiun MRT. Jadi, tidak akan susah seharusnya. Rute yang sama, kan?

Tapi entah kenapa malam itu, bus tidak memenuhi harapan saya. Dia memang lewat di sebuah kawasan ramai dengan tulisan Baclaran di salah satu bangunan ruko. Tetapi, mana terminalnya? Mana kereta kota yang lewat di atas jembatan layang itu? Saya terus berjalan, mungkin, tidak akan jauh dari sini. Mungkin ini adalah sisi Baclaran yang lain dari yang saya singgahi dua hari lalu. Saya bertekad akan menemui stasiun MRT untuk menuju area hostel saya berada. Saya melangkah saja, menutupi hidung karena astaga... bau pesing sekali jalan raya di Manila ini! Mana kotor pula. Duh. Saya mencoba bertanya kepada polisi yang ada di situ, dia hanya menyuruh saya berjalan lurus untuk menemui stasiun MRT. Yang mana lurus itu ternyata jauuuh. Tanya polisi lain lagi, masih diminta berjalan lurus lagi. Saya mulai capek sebenarnya memanggul ransel seberat kira-kira tujuh kiloan ini. Tapi saya belum menemukannya juga. Saya berhenti sebentar, mencoba berpikir daripada hanya berjalan tak tentu arah. Menenangkan diri sebentar, melihat-lihat sekitar.... hei! Ada kereta melintas di atas sana!! Saya langsung semangat, berarti tak jauh lagi stasiun MRT-nya.

Phew! Saya mengembuskan napas lega ketika memasuki salah satu gerbong MRT. Saya menunggu-nunggu untuk dapat turun di stasiun Pedro Gil. Lho... lho... kok, lewat stasiun kereta ini? Saya membuka lagi peta MRT di handphone, mencoba mencocokkan. Astaga, ini line yang berbeda! Bagaimana ini?? Mau turun, tapi saya bingung. Saya memutuskan tetap berada di kereta. Saya memperhatikan ujung line ini menuju: North Ave Station. Nah di North Ave Station seharusnya saya bisa pindah ke line lain yang ke Pedro Gil, karena meski line-nya berbeda, tetapi muaranya toh sama-sama ke North Avenue Station. Saya bergeming saja di dalam kereta. Hingga akhirnya MRT berhenti di stasiun terakhir. Kiri-kanan saya mulai beranjak, keluar dari gerbong. Mau tak mau, saya pun keluar. Melihat ada seorang polisi, saya menghampirinya dan bertanya lagi.

Sir, I’d like to go to the Pedro Gil. How?

Oh, you have to go to the Taft Ave.”

But I just arrive from there!” Saya berseru, mulai hilang sabar. Tampak si polisi menundukkan kepala seperti menyayangkan sesuatu.

“You have to take the different line to go to Pedro Gil.”

“I can’t transfer here?”

No, you can’t,” sesalnya. “You have to go back to Taft Ave and move to line 1, okay?

Gila! Saya lemas dan kembali masuk gerbong kereta. Duduk di sana dengan pasrah. Saya kembali mengikuti kereta yang sama, tapi rute yang berkebalikan. Saat sudah tiba di Taft Ave, saya mencoba mencari line 1. Seseorang menegur saya, lagi-lagi polisi.

Now is too night, the LRT only operate until 9.30 pm.

Bagus! Saya menepuk jidat, lalu bertanya apa yang harus saya lakukan jika ingin menuju Pablo Ocampo Street. Dia menyarankan saya naik Jeepney di bawah. Saya menuruti. Tetapi setelah turun tangga stasiun MRT dan mendapati beberapa Jeepney, saya tidak menemukan nama jalan yang saya cari. Sang sopir pun bingung ketika ditanya.

Bahu mulai turun, saya lelah, saya tersesat, tepat seperti yang diramalkan oleh petugas bandara tadi. Padahal, saya sempat tersinggung dengan ucapannya. Dia tak tahu kalau saya sudah sering bertualang dengan cara ekonomis, masa gini aja nyasar? Itu ucapan saya tadi dalam hati saat dia meremehkan saya. Tapi toh ucapan dia ada benarnya. Dan sekarang sudah mendekati pukul sepuluh malam, nggak lucu kalau saya terus ada di jalan raya tak jelas seperti ini. Akhirnya, saya pun....

“Sir, can you take me to Pablo Ocampo Street, near Century Park Hotel?” Saya membuka pintu salah satu taxi yang terparkir di situ dan berbicara pada sang sopir. 

Ya, saya sudah tak berpikir tentang persediaan uang yang semakin menipis, ini sudah malam, saya naik taxi juga akhirnya ke hostel.

And the best part is, meski saya sempat ketus karena menganggap pak sopir terlalu banyak bertanya dan tampak bingung dengan tujuan saya, tetapi dia tetap meladeni dengan ramah. Dia bahkan mengajak saya ngobrol, saya dari mana, berapa lama di Manila, dan mengajari sedikit bahasa Tagalog.

So this is your hostel.” Kami berhenti di sebuah bangunan di seberang Hotel Century Park. The Buoy Hostel, tepat seperti nama yang tertulis di kertas yang saya pegang.

Ah, thank you, Sir!” Saya berujar lega, terlebih ketika mendapati tarif taxi tidak terlalu mahal, sekitaran 80an peso.

“What’s your name?”

“Dini.”

My name is Peter,” dia mengajak bersalaman, saya menyambut tangannya, “and I am your friend here.” Dia tersenyum, sangat, sangat, menenangkan. 
Oh, leganya....

Welcome to Manila, Dini. :)

(based on my traveling at Oct 5th, 2013)