Saturday, January 19, 2013

to travel is to take a risk …



 To travel is to take a risk …

from: galleninsurance.com

Tadi siang terjadi perbincangan di grup bbm tentang teman saya yang akan melakukan petualangan ke India. Perjalanannya mengandung risiko, karena saat pulang nanti ia harus berjibaku dengan waktu untuk berpindah antara dua bandara di Malaysia, demi mengejar pesawat pulang ke Jakarta yang memang berbeda maskapai. Mengandung risiko, karena jeda waktu yang ia miliki hanya 2,5 jam, dengan asumsi penerbangan berlangsung tepat waktu!

Beberapa hari ini DKI Jakarta diguyur hujan teramat deras dalam kurun waktu yang lama hingga mengakibatkan banyak daerah terendam banjir parah, bahkan hingga beberapa meter. Akses menuju antar wilayah di provinsi ini pun banyak terhalang, yang terutama menjadi perhatian adalah akses menuju bandara. Hingga membutuhkan kendaraan besar semacam truk untuk mengangkut calon penumpang pesawat terbang menuju bandara. Hal yang tak luput dari perhatian saya, karena saya juga akan melakukan perjalanan udara pada tanggal 24 Januari 2013, lima hari lagi. Tentunya saya berharap keadaan berangsur pulih, namun yang membuat saya berpikir ulang adalah dengan adanya berita bahwa DKI Jakarta ditetapkan dalam kondisi siaga hingga tanggal 27 Januari 2013. Bahkan diperkirakan pada tanggal itu kondisi banjir akan mencapai puncaknya karena laut pasang hingga disebutkan Jakarta dalam kondisi…. tenggelam.

Saya khawatir, tentu saja. Pada tanggal yang dimaksudkan menjadi puncak banjir di Jakarta tersebut, saya malah baru bertolak dari Padang menuju Jakarta, pada malam hari, menjelang tengah malam lebih tepatnya. Apa jadinya jika yang diperkirakan terjadi? Saya tidak bisa membayangkan jika saya harus terisolasi di bandara  dan tidak bisa beranjak menuju kota, kembali ke tempat tinggal saya yang sebenarnya tidak terkena banjir. Saya kan berencana tanggal 28 nya langsung masuk kerja. Apa jadinya kalau saya harus merogoh kocek lebih dalam untuk transportasi menuju kota, padahal uang untuk bekal di Padang saja saya sudah pas-pasan? Haruskah saya membatalkan rencana perjalanan saya?

Selalu ada risiko dalam sebuah perjalanan. Selalu ada tantangan dan hambatan yang akan kita temui setiap kita melakukan perpindahan. Jika ingin memiliki hidup yang tenang-tenang dan tanpa risiko, jalani saja hari-harimu dengan biasa, tanpa perlu melakukan sesuatu yang istimewa. Ini bukan pertama kalinya saya traveling dengan risiko yang menyertai. Saya ingat, Thailand juga sedang dalam kondisi siaga banjir di bulan Oktober 2011 saat saya  berencana melakukan perjalanan ke sana, pada tanggal 14-16 Oktober 2011. Kota tujuan saya adalah Bangkok, dan banyak berita berseliweran tentang kondisi banjir di Bangkok. Banyak tanya melintas apakah kota Bangkok masih aman untuk dikunjungi. Perasaan antusias saya saat hendak melakukan solo traveling ke luar negeri pertama kali pun berubah menjadi khawatir dan gugup. Gugup kalau-kalau diri saya yang ingin tetap melanjutkan rencana ini, akan menemui ganjaran yang tidak baik.

Lalu apa yang saya lakukan? Setiap hari saya terus memantau kabar terkini tentang Bangkok dari media sosial. Hingga akhirnya sumber terpercaya yang ada di Bangkok menyatakan kota itu masih kondusif, maka saya memutuskan untuk tetap berangkat. Hasilnya? Di sana perjalanan saya ke beberapa tujuan memang sering disertai dengan hujan deras, namun syukurlah tidak sampai terjadi banjir parah, hanya jalan yang tergenang sampai batas mata kaki. Perjalanan tersebut pun menjadi salah satu yang saya kenang sampai sekarang, karena pertemuan dengan orang-orang asing yang menyenangkan.

Ada risiko yang diambil dalam sebuah perjalanan. Kenyataannya, hal ini akan membuat kita menjadi semakin pintar dan mawas diri. Risiko ada bukan untuk membuat kita gegabah dan jumawa dengan beranggapan kita pasti bisa melaluinya. Bukan. Menurut saya, risiko tercipta untuk menguji sejauh mana ketangguhan dan ketahanan mental kita. Saya tak akan mengambil suatu risiko jika saya tahu dengan jelas hal tersebut dapat menggugurkan rencana-rencana baik saya. Saya juga tak bisa mengatakan bahwa saya ulung dalam hal menjalani sesuatu yang berisiko. Tapi yang saya lakukan adalah meyakinkan diri saya dengan mengumpulkan setiap informasi yang diperlukan. Sampai suatu daerah dinyatakan benar-benar tertutup, saya rasa masih ada peluang untuk tetap melakukan perjalanan.

Saya tak mau buta dengan risiko, pun tak mau gegabah. Jadi sampai sekarang, saya terus memantau kondisi Jakarta sambil berdoa kota ini segera dipulihkan. Bukan hanya untuk tujuan rencana perjalanan saya, namun lebih-lebih untuk keselamatan kota ini. Kota tempat saya hidup dan meraih mimpi-mimpi saya. Kota yang menjadi penghubung untuk saya dapat menjalani passion saya. Dan saya juga beranggapan, memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi tak melulu menjadi sebuah doa yang jelek, namun agar saya bisa memikirkan antisipasi yang bisa saya lakukan jika hal tersebut terjadi. Toh jika akhirnya hal buruk atau risiko tersebut tidak terjadi, saya sendiri yang merasa lega. Tak ada kata rugi untuk sebuah persiapan antisipasi dini. :)

dinoy

3 comments:

  1. hehehehe.. jakarta tetaplah kota yang bersahabat, semalam apapun itu..

    ReplyDelete
  2. you sure? dengan tindak kriminal yang sering terjadi belakangan ini?? :|

    ReplyDelete
  3. 17 jan 2013 saat jakarta banjir besar, saya berjuang menuju gambir untuk naik bus damri ke bandara.
    Naik ojek dan jalan kaki menembus banjir, untuk pesawat jam 15.10 dan saya jalan jam 9 dari rumah.

    Kaishan ibu2 yg pesawat jam 9 pagi tetapi jam 10 masih baru sampai gambir naik damri.

    Banjir oh banjirrrrrr

    ReplyDelete